Sore hari.

Tidak seperti judulnya, tamu-tamu yang duduk melingkari meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia terdiam sepi. Lik Power, Kang Sronto, Juragan Brono dan Bang Sianturi duduk terdiam dengan wajah tegang. Sementara tuan rumah, Cengkir belum datang dari beres-beres rumah yang terkena lindu di wilayah grumbul kulon desa Carangpedopo. Gempa yang baru saha melanda memang tidak menimbulkan korban jiwa tapi menyebabkan kerusakan beberapa rumah di wilayah barat desa ini.

“We lah, kok cuman diam-diaman saja? Mentang-mentang ndak ada suguhannya ya?”  kata Cengkir ceria seperti biasa. Dia baru datang dan seluruh badannya masih berlumuran debu bangunan.

Gundulmu! Dah sana mandi dan cepet bikin wedang. Jangan sampe buka blm ada apa-apa!” usir Juragan Brono.

“Kalo begitu, saya amit mundur, Juragan.” kata Cengkir sambil berlagak menjura. Cengkir pun berlalu untuk bersih diri dan menyiapkan buka ala kadarnya bagi tetamu Pemuja Obrolan Sore.

Keceriaan Cengkir mampu mengubah suasana beku diantara bapak-bapak ini.

“Trus gimana ceritanya, Pak Lik. Koperasi Bang Sianturi ini yang cuman butuh dana talangan 1,3 juta malah dikasih dari kas desa 6,7 juta?”  tanya Kang Sronto pada Lik Power.

Memang selain dilanda gempa bumi, desa Carangpedopo juga sedang dilanda gempa keuangan. Koperasi Bang Sianturi sedang dilanda masalah keuangan. Demi menyelamatkan sendi ekonomi di desa ini, maka Lembaga musyawarah desa sepakat memberi dana talangan dari kas desa sebanyak 13 juta. Tapi ternyata dana yang dicairkan oleh Kepala Desa sebesar 67 juta.

Kontan saja, suasana langsung geger genjik. Rame. bahkan saking ramenya, lindu yang melanda wilayah desa ini jadi kurang terdengar nasibnya. Semua sibuk membahas gempa yang satu ini. Banyak rumor yang beredar. Lik Power sebagai bapak kandung Kepala Desa, yang memang itu jabatan diwariskan turun-temurun, mencoba mengajak pemilik koperasi desa Bang Sianturi ke acara Obrolan Sore ini. Dengan harapan sedikit bisa njlentrehke kepada para bapak-bapak Pemuja Obrolan Sore. Tapi tampaknya kebanyakan lebih suka menikmati rumor yang beredar daripada mendengar langsung dari Bang Sianturi, apa yang terjadi.

“Lha ini, aku udah bawa Bang Sianturi ke sini. Biar orangnya sendiri yang menjelaskan.”  balas Lik Power melempar jawaban.

“….”

“Jadi begitu ceritanya, Kang Sronto.” Bang Sianturi menutup penjelasannya.

“Wuih, penjelasan yang sangat singkat dan padat.” kata Kang Sronto takjub dengan penjelasan Bang Sianturi yang tau-tau selesai, dan curiga pada Tukang Cerita yang membatasi halaman Obrolan Sore ini. Kang Sronto melanjutkan. “Tapi kok, harus pake dilebih-lebihkan pencairan dananya?”

“Gini lho, Kang Sronto.” Juragan Brono angkat bicara. “Sisanya itu buat cadangan. Kalo ternyata duit yang disetujui itu kurang, trus koperasine Bang Sianturi tutup. Wah, kuwi malah bisa dadi mala.”

“Termasuk Juragan Brono ndak bisa lagi kulakan murah di koperasi Bang Sianturi?” tanya Kang Sronto.

“Betul itu.” angguk Juragan Brono.

Nyuwun sewu, Gan.” Cengkir bergabung sambil membawa senampan teh pahit dan lempog sebagai kudapan manisnya. Cengkir melanjutkan dengan nada bangga. “Kalo ndak salah, Juragan Brono ini juga punya aset di koperasi Bang Sianturi, lho.”

“Weh,weh.” Kang Sronto kagum dengan informasi dari Cengkir barusan. Kang Sronto kemudian bertanya. “Eh iya, lanjut ke yang tadi. Dana cadangan tadi itu, kalo ndak kepakek brati harus dikembalikan ke kas desa. Bukan begitu, Pak Lik?”

“Iya…” Lik Power memberikan jawaban menggantung.

“Lho sampeyan ini gimana to, Kang Sronto. Ya kayak pelatih bal-balan yang handal itu lho. Semua pemain atau dana inti dimainkan, dana atau pemain cadangan ya ikut dimainkan semua. Jadi ndak ada cadangan-cadangan yang ndak kepake. Hasilnya menang, semua senang.” kata Cengkir tanpa tendensi.

Celoteh polos Cengkir membuat hadirin kembali diam. Kang Sronto mengangguk-angguk paham sekaligus prihatin. Lik Power, Juragan Brono dan Bang Sianturi terdiam jengah.

Melihat tamu-tamunya diam. Cengkir melanjutkan celathu-nya tetap dengan nada riang. “Tapi puasa kali ini rame, ya. Ada gempa di kulon trus disusul di grumbul kidul. Ada lindu di koperasi Bang Sianturi. Tokonya Juragan Brono juga bakal rame, meski harga-harga bakal naik nyaingi langit-langit gudhange Juragan Brono. Padahal Juragan Brono kulakannya udah setengah taun lalu dengan harga murah. Belum lagi ramenya pelantikan anggota Lembaga Musyawarah Desa yang katanya butuh dana 36 yuto. Wis jan, poso kali ini ndak mboseni.”

“Ya semua butuh duit buat lebaran, Kir, Cengkir” kata Kang Sronto menghela napas, meniup cangkir tanah liat berisi teh pahit.

Adzan maghrib berkumandang mengakhiri Obrolan sore kali ini, seraya berdoa : Semoga harta yang didapat Ramadhan kali ini mberkahi di hari lebaran nanti.  Amiin…