Bagi jelata seperti saya yang tidak punya dana untuk membeli lisensi Operating System (OS) dan software berbayar. Apalagi setelah bayar mahal-mahal yang saya dapatkan ternyata cuma lisensi-nya, bukan software-nya. Intinya : “Ente boleh pake software ane punya. Tapi kalo ente macem-macem, ini ane punya software ente kagak boleh pake lagi.”

Nah lho, diancem begitu tentu saja saya angkat tangan. Menyerah. Padahal waktu itu (akhir 2007), ada saweran buka warnet di kota paling kecil dan lembut sedunia . Saya pikir, anggaran buat beli lisensi OS yang mahal tentulah lebih baik dialokasikan untuk foya-foya membantu rakyat jelata. Kebetulan jelata yang ada saat itu cuma saya😀.

Eits, jangan berprasangka baik dulu. Ini bukan penggelapan anggaran pembelian software. Tetep saja anggarannya dibelikan OS, OS Linux. Linux adalah Free tapi tidak gratisan. Sah saja saya menjual linux, yang dilarang adalah menjual lisensi linux. Kalau di pasaran OS yang lain harganya 850 ribu, ya saya jual linuxnya seharga itu, kan…khukhukhu  8) . Hanya saja sebagai gantinya, saya memberi full suport gratis selama 1 tahun jika ada trouble-trouble dengan linux-nya. Bandingkan saja, dengan harga yang tertera di atas, apakah pihak vendor OS yang bersangkutan mau datang ke pembeli dan men-support gratis jika ada masalah dengan OS-nya?

Kemudian, karena waktu yang diberikan dari orderan datang cuman 2 minggu, padahal waktu itu saya bener-bener blank belum pernah liat wujud linux di kompyuter. Jadilah, dalam 2 minggu saya gedabikan (baca : jatuh bangun – tanpa irama Megi Z) kenalan dengan linux.

Kebijakan warnet, untuk awal-awal menggunakan modem hape gprs kelas 10 dan kartu gsm paket internet 300 ribu per bulan. Membuat saya kenal dengan wvdial . Meski harus di bantu Pak Rusmanto Infolinux soal share IGOS 2006 , karena Desktop di Zencafe tidak bisa tampil .

Begitu warnet mulai mendapat pelanggan, koneksi internet segera diganti dengan internet “Tjap Tjepat” yang telah menggurita di mana-mana. Zencafe-pun tershare internetnya . Kemudian saya memutuskan untuk berganti ke Ubuntu yang lebih “Human being” . Meskipun untuk hal oprek-mengoprek jeroan Linux, turunan Slackware yang paling memadai sebagai distro lelaki sejati😀 Internet “Tjap Tjepat” pun bisa ter-share di Ubuntu .

Warnet tersebut di atas, sudah saya tinggalkan dan saya kembali mengais remah-remah saweran di sini. Ada yang membekas dari pengalaman meng-admin warnet linux. Yaitu semangat berbagi dari orang-orang pengguna linux dan open source. Sebagai pemula yang telah banyak terbantu oleh para master linux, saya jadi kepengen juga sekedar berbagi pengalaman linux yang saya dapatkan di sini .

Demikianlah, sejak saat itu di setiap kesempatan yang bisa saya dapatkan, saya selalu coba mengkampanyekan Linux (pengennya sih OS opensource lain, tp blm pernah nyoba je). Pada semua orang yang saya ajak bicara. Termasuk pada agen asuransi dan sales provider gsm yang sedang memprospek saya😆

Sebagai sarana kampanye Linux, warnet bisa dikatakan ujung tombak promosi linux. Karena warnet linux lah yang setiap hari menghadapi beragam keinginan konsumen, sementara sang warnet harus tetap menghasilkan profit. Biasanya, warnet linux mendandani desktopnya dengan make-up seperti OS yang familier digunakan user . Awal-awal, saya juga berpikiran seperti itu. Tapi saya urungkan, karena saya ganti pikiran saya : “Disamping kasian pelanggan, siapa tau ada yg merasa kecele. Biarlah konsumen itu begitu menghadapi PC-client, sudah siap mental duluan pake OS asing” :D)

Sedangkan untuk kampanye pribadi, saya mengandalkan flashdik dan tanktop leptop. Untuk Flashdisk, saya suntikkan Puppy Linux , yang karena tampilan menu-nya kurang menggairahkan (padahal kelengkapan software bawaannya, luar biasa), saya ganti dengan Slax di flashdisk . Cara-cara saya menyuntikkan linux di flashdisk yang saya tulis tersebut, masih manual. Sekarang saya baru tahu (kurang pengalaman), ada software Unetbootin yang membikin sangat mudah install linux di flashdisk.

Melalui flashdisk, saya bisa bilang calon korban : “Kalo masih ragu pake linux, bisa pakai flashdisk dulu. Linux di flashdisk sudah langsung digunakan buat kerja juga,lho. Hasil kerjanya mo disave di flashdisk ato hardisk windows juga bisa. Gimanaaa, mantep to?”

Nah, kalo sudah mulai goyah keyakinannya, saya buka leptop dan bilang : “Nih, linux itu seperti ini lho. Ndak jauh beda, kan. Dan tampilannya bisa dibikin kayak permen seperti ini.”
Catatan : tampilan desktop linux saya, memang selalu saya bikin “Eye Candy” (artinya : mata permen, to?), biar lebih menarik para calon korban.

Kalau 2 cara tersebut diatas belum membuahkan hasil… ya diulang terus sampai 1000 kali, niscaya sang korban bakal enek dan menyerah😆

Di dukung semakin maraknya kampanye linux, diantaranya berupa seminar di sini dan kelak di sana , sudah saatnya kita juga ikut untuk berpikir merdeka.

Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI (LINK LOMBA BLOG) dan Seminar Open Source P2I-LIPI (LINK SEMINAR LIPI) 2009.