Sore hari.
Meski di bulan puasa, tidak ada niat untuk menghentikan Obrolan Sore di rumah Cengkir yang sudah berlangsung 3 generasi….

“Ngko sik, sebentar…Ini judul kok sok pake bahasa londo kayak gini,ya? Opo Tukang Ceritanya jos gandos boso londone?” tanya Lik Power.

“Halah, Pak Lik. Tukang Ceritane ngapalke I Love U aja 3 taon.” balas Mas Aris.

“Brati mung gur gaya-gayaan Tukang Ceritanya?” tuntut Kang Sronto.

“….”

“Mau dilanjutkan gak nih?!”

“Yo wis, yo wis…puasa-puasa kok mutung.”

Baiklah. Saya ulang dari awal.

Meski di bulan puasa, tidak ada niat untuk menghentikan Obrolan Sore di rumah Cengkir yang sudah berlangsung 3 generasi.Hanya saja, tajuk acara di bulan suci ini sedikit dimanipulasi dengan “Menunggu Buka Puasa Bersama”. Hadir di sore ini ada Kang Sronto, Lik Power, Kang Guru dan Mas Aris Toteles sang filsuf desa Carangpedopo. Sedangkan Cengkir sang tuan rumah, sedang sibuk di dapur menyiapkan hidangan ala kadarnya buat buka puasa bapak-bapak di teras rumahnya.

Selama bertahun-tahun tidak pernah ada yang mempermasalahkan pembagian tugas seperti ini. Karena sesuai dengan tuntunan Kanjeng Nabi yang juga dijadikan kearifan lokal di sini, tamu itu kudu dihargai dan dijamu. Meski harus merelakan jatah makan atau dihutangkan tetangga sebelah, tidak pantas membiarkan tamu duduk tanpa jamuan di rumah kita.Demikian prinsip hidup bebrayan, bersosial, ataupun bertetangga di desa Carangpedopo. Tidak ada iri hati, karena tidak ada yang usil.

Yah…walau yang sedang emosi pasti selalu ada. Seperti sore ini, Lik Power sedang mengobarkan semangat juang ’45 pada hadirin yang datang di acara santai Obrolan Sore.

“Lho bener ini, kalo jamanku dulu, pasti semua sudah digerakkan buat diberangkatkan ke tetangga kurang ajar itu!” seru Lik Power bersemangat, tak lupa mengepalkan tinjunya.

“Lha, sekarang ini udah banyak yang dari kita berangkat ke sana, gitu Pak Lik.” kata Kang Sronto kalem.

“Haiyak, disana cuman jadi babu. Itu aja banyak yang dinista,dianiaya, dan dirudhapaksa. Ini juga bisa buat alasan tambahan buat menuntut balas tetangga kita itu!” belum surut nada emosi Lik Power.

“Tapi menyumbang kas Desa, lho Pak Lik.” timpal Kang Guru tenang.

Ra urus.Iki masalah kehormatan desa. Ra peduli meh kelangan trilyunan, tapi kalo dinjek-injek terus yo kudu nglawan!” kobaran kata Lik Power terpaksa berhenti, karena dada tuanya semakin tidak kuat menahan luapan emosi. Napasnya tersengal-sengal.

“Saya setuju dengan Pak Lik. Tetangga kita itu makin usil juga karena kitanya diem aja.” kata Mas Aris Toteles. Lanjutnya. “Tapi kita sendiri yo aneh, ndak pernah nguri-uri atopun senang sama budaya sendiri malah lebih senang budaya impor, eh begitu diambil sewot. Ini seperti kalo punah dan hilang silahkan wong saya ndak pernah pake, tapi ndak boleh dicuri. Lha aneh, to.”

“Lha terus harus gimana, ini?” Kang Sronto menanyakan solusi.

“Serang!!” teriak lantang Lik Power yang tiba-tiba powernya kembali terisi penuh.

“Welah, sabar to Pak Lik. Puasa, Pak Lik.” Kang Guru menenangkan Lik Power, sambil ikut membantu mengurut punggung Lik Power yang kembali sesak napas. Kang Guru melanjutkan. “Menurut saya, kalo tetanggan sesama orang muslim tawuran, jelas yang paling senang itu setan. Liat aja, nanti kan tetangga-tetangga jauh juragan klewang, arit, golok jadi punya alasan bikin toko di sebelah kita. Juga jadi punya alasan bikin Pangkalan Satpam di pelataran parkir kita

“Trus, enaknya gimana ini?” tuntut Kang Sronto.

“Wah enaknya yo tetangga kita itu dimasukkan ke wilayah desa kita, biar desa kita tambah kaya, tambah makmur…hehe.” balas Mas Aris dengan nada bercanda.

“Itu yang paling enak. Tapi mereka juga pastinya pengen desa kita masuk ke wilayah mereka.” timpal Kang Guru. Kemudian Kang Guru melanjutkan. “Yo wis sing sronto sak kabehane. Pemerintah Desa sekarang ini sedang punya prioritas…”

Saat itu keluar Cengkir sambil membawa minuman buat berbuka puasa. Hidangan asli budaya sendiri, teh tawar mengepul dalam cangkir tanah liat dengan potongan-potongan gula aren di piring berbeda. Menikmatinya adalah dengan menyeruput teh tawar (pahit) langsung dilanjutkan dengan mengemut potongan gula aren.

Sambil membagikan hidangan diatas meja jati bundar yang telah menghitam, Cengkir meneruskan omongan Kang Guru yang terputus karena kehadirannya. Polos Cengkir berkata. “Pemerintah Desa sekarang ini sedang punya prioritas mengembalikan dana pinjaman buat kampanye Pilihan Kades kemaren, nggih to Pak Lik.”

Lik Power cuman mencap-mencep. Memang selama puluhan generasi, Desa Carangpedopo selalu dipimpin Kepala Desa dari keluarga Lik Power. Lik Power sendiri sebelum pensiun juga menjabat Kades, lalu dilanjutkan anaknya. Hanya saja demi mendukung semangat reformasi demokrasi, untuk memperpanjang kekuasaan Kades sekarang, diadakan Pilkades untuk pertama kalinya di Desa Carangpedopo. Terpaksalah seluruh keluarga Kades dan Lik Power mengeluarkan daya upaya serta harta benda buat memenangkan pilihan Kades kali ini. Memang sih, Pak Kades masih menang mutlak dibanding saingannya…tapi ya itu, harta kampanye sampe harus pinjam ke big bos tetangga desa jauh, yang suka berlagak sebagai Desa Jagoan.

Komentar polos Cengkir, dan bagaimana mengajarkan tetangga desa supaya indah kelakuannya dan cara bertetangga tidak usil, supaya bisa hidup rukun dalam bebrayan, kekancan ataupun ber-neighbourhood…belumlah tuntas dibahas para pemuja Obrolan Sore ini. Karena adzan maghrib telah berkumandang. Mengajak untuk berbuka puasa, dan juga mengingatkan manusia untuk tidak saling berbuat kerusakan.