Beberapa waktu silam, di satu counter penjualan software dan game bajakan yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota ini, saya sempat bertanya harga DVD ADOBE CS3 Design Premium. Satu keping DVD bajakan yang memuat program-program top class dari Adobe ini dihargai 40 ribu. Sebagai jelata jumawa, 40 ribu adalah jatah makan nyaris 3 hari. Jadi harga segitu masih terlalu mahal untuk 1 keping DVD bajakan.

Lama berselang, saya mendapati di “Liputan Harga Pasar” Tabloid PC Mild edisi 13/2009, harga sesungguhnya dari Adobe CS3 Design Premium tersebut adalah $1798. Mudahnya dikurskan dengan $1=Rp.10 ribu, berarti harga software design itu adalah 17,98 juta-an.

Dengan harga seperti itu, 40 ribu terasa seperti membeli obeng,linggis dan kunci-kunci lain seharga 40 ribu bisa menggondol hasil jarahan 17 juta.

GIMP (Gnu Image Manipulation Program), program yang memiliki fungsi sama dengan Adobe CS, memiliki harga 0 rupiah. Seorang teman yang menjaga warnet linux di kota Pati, begitu lincah menggunakan software yang tidak kalah dengan CS tapi gratis ini. Iseng saya tanya : bagaimana kalo pake CS?
beliau jawab : wah, aku gak pernah make…nyoba make,malah langkah2 editnya lebih panjang daripada GIMP.

Tentu saja masih banyak dalil dan alasan yang digunakan untuk memakai produk-produk curian seperti ini. Satu yang membuat miris adalah kejadian 1 tahun lalu yang saya pendam…tp akhirnya ember juga di sini😛
*Nyaris 1 tahun lalu, waktu ikut program i’tikaf di masjid terkemuka di kota ini. Ada seorang ustadz muda memberikan presentasi kuliah subuhnya dengan paparan Ms.Power Point dan ubo-rampenya. Selese kajian ba’da subuh tersebut, saya dekati beliau yang masih mengerjakan sesuatu di depan laptop di meja tempat ustadz presentasi tadi. Saya minta fatwa beliau soal bajak-membajak ini.

Sang ustadz menjawab, “ya, yang punya windows kan kaya..dibajakpun tidak mengurangi kekayaannya..”
Saya coba sedikit berargumen. “tapi tadz, kl membajak dianggap tidak masalah, nanti mulai dari kecil-kecil. Misal, memfotokopi catatan…tidak apa-apa ; menyontek…tidak apa-apa; terakhir2, mengambil hak orang lain-pun tidak apa-apa?”
Ustadz hanya tersenyum manis yang saya balas dengan senyum pesimis.

Menariknya,
saat itu seakan-akan langsung mendapat counter dari pernyataan ustadz barusan. Saya masih duduk disamping ustadz sambil mempromosikan Ubuntu ME, ada seorang peserta i’tikaf lain datang dengan membawa flashdisik dan mau meng-copy bahan presentasi kajian subuh tadi.
Kontan ustadz bilang : “lho, ini milik Masjid. Gak bisa dicopy.”

Nyaris saja saya nyletuk : “Lho, masjid ini kan kaya…gak pa-pa dunkz kl makalahnya dikopi.”
Untung saja, masih bisa saya tahan ucapan itu. Karena jika sampai terucap, tentunya akan menyakiti sang ustadz. Padahal ada 2 golongan yang saya berusaha untuk tidak menyakiti hatinya : orang-tua (parents) dan para pewaris nabi yang memegang teguh ajaran dari para salafus shalih.
Apa jadinya hidup saya yang bergelimang darah dan dosa (kok kyk lagunya bang Roma,ya) kalau sampe menyakiti warsatul anbiya ini.

Tapi,
keukeuh saya pikir kalau budaya membajak dan memakai produk bajakan sudah terbiasa dari kecil, tak heran jika ada kasus “Membeli Masa Dapan” seperti ini.

Apapun OS yang digunakan, yuk mari Stop Dreaming Start Action dengan menggunakan software yang asli dan bukan bajakan.

Karena,
Apa yang Anda lakukan jika uang 17 Juta Anda dicuri secara berjamaah?