Sekali lagi,

lapar dan dingin aku alami saat ini.

Tlah bertahun lalu,

saat pelatihan, saat melakukan melakukan sesuatu yang tidak aku mau.

Membuat kekacauan,

menjadi informan,

mengobarkan pemberontakan,

dalam kerahasiaan.

Memasang wajah susah walau sedang senang,

mengganti wajah senang walau dirundung malang.

Selalu aku lalui dalam lapar dan dingin.

Bagaimana bisa kenyang dan hangat,

kalau kerjaannya bikin orang lain hilang dan lewat?

Itulah kenapa rasa lapar perutku ini setingkat di atas lapar bawah perut.

Rasa lapar bawah perut bisa hilang dengan 1200 perak,

buat 3 minggu dengan si sabun Tjap Merak.

Tapi 1200 rupiah,

cuma cukup buat sebungkus keripik renyah.

Mana bisa bikin kenyang dan hati senang,

tubuh hangat dan berkeringat.

Meski begitu,

saat kejayaan menghampiriku,

aku memutuskan tuk berlalu,

meninggalkan urusan yang tak sesuai hati nuraniku.

Meninggalkan bayang-bayang suram,

biar hidup tak jadi muram.

Ternyata, oh ternyata…

di sini sama saja!

Aku masih kelaparan.

Hanya satu bedanya,

meski nun jauh disana,

aku kini mulai merasakan hangatnya sang surya.

“21.52…dibawah halusinasi puncak lapar malam ini”