Sore hari.

Pada sore yang tidak bisa ditentukan musimnya sesuai buku teks anak SD, masih sering hujan tapi sudah masuk kemarau, sering kemarau padahal sudah pertengahan musim hujan. Mas Roy, putra Pak Kades yang kuliah di Sospol tapi lebih jago kompyuter, jalan bak badai masuk ke teras rumah Cengkir.  Kedatangan Putra Mahkota Kepala Desa Carangpedopo (karena memang jabatan Kades disini diwariskan), yang seperti memendam masalah pelik itu, membuat bapak-bapak pemuja Obrolan Sore menoleh kearah Mas Roy.

“Gawat! Gawat!” seru Mas Roy panik.

“Welah, datang-datang kayak orang dikejar maling. Trus langsung ngomong gawat, gawat. Duduk dulu to, le.  Sabar, sareh. Trus, crita ada apa?” tutur Lik Power, yang mantan Kades dan juga kakek Mas Roy, menyabarkan cucunya.

Mas Roy, menuruti tetua desa yang terpaksa masih disegani itu. Duduk diantara Cengkir dan Kang Guru di depan meja bundar kayu jati asli yang sudah menghitam dimakan usia. Cengkir, sang tuan rumah, menuangkan kopi buat Mas Roy. Baru Mas Roy bercerita.

“Begini, lho. Di kota lagi rame, ada ibuk-ibuk yang namanya Ibu Prita Mulyasari berobat ke Rumah Sakit Omni, disana ibuk dua anak ini dicurangi, ndak diperlakukan ramah sama rumah sakit, juga ndak diberi perawatan yang bener sampe-sampe bu Prita pindah rumah sakit lain yang akhirnya malah sembuh disana, tapi selaput matanya ada yg rusak karna ga ditangani bener di RS Omni. Trus ibuk Prita curhat lewat email masalah ini, eh dia malah dipenjara karna pencemaran nama baik. Mesakno anaknya yang masih butuh ASI itu.” Mas Roy mengakhiri ceritanya dengan mata menyala dan tangan terkepal, siap melakukan segala cara buat membebaskan Ibu Prita.

“Kena pasal brapa, sih?” tanya Kang Guru.

“Nggak tau, pokoknya dari pasal-pasal UU ITE yang gak jelas itu! Edan aja, masak konsumen yangdirugikan, konsumen juga yang masuk penjara!” seru Mas Roy masih emosi.

“Walah le, le…kayak beginian ya sudah ada dari dulu ya.” komentar Lik Power. Lik Power menyedot rokok-kretek-menyan-silumannya sebelum melanjutkan. ” Siapa aja yang punya kuasa dan duit dan kelakuannya kayak setan, ya pasti bakal ngembat sapa aja yang brani nyentil dia.”

Mas Roy semakin geram dengan kenyataan hukum rimba seperti ini. Dia mulai berpikir buat jadi  penguasa-penguasa yang bener-bener bisa membrantas praktek UU Hukum Rimba ini…setidaknya kelak di Desa Carangpedopo ini… (tanpa sadar kalau jabatan Kades warisan turun-temurun juga termasuk pelaksanaan UU Hukum Rimba pasal kesekian).

“Aku juga punya cerita gawat.” kata Kang Guru memecahkan lamunan soal Ibu Prita.

Opo kuwi, KangGuru?” tanya Lik Power.

“Ini, beritanya ribuan murid ga pada lulus unas, gara-gara gurunnya salah ngasih bocoran buat contekan.”

“Lha, trus gimana?” tanya Mas Roy kaget.

“Ya katanya sih mau diulang unas-nya. Padahal di peraturannya gak ada yang namanya unas diulang.”

“Walah, curang dobel brati. Abis nyurangi soal, sekarang peraturan dicurangi. Lagian aneh, dari dulu itu murid dijejeli buanyak mata pelajaran, tapi yang di-unas-kan cuma 3. Kalo cuma 3 yo mending kursus aja ndak repot dan buang duit…Trus kalo begini sapa yang salah?” tanya Mas Roy.

“Ya salah semua. Muridnya sebagai pelaku kejahatan juga salah. Kalo pede bakal lulus sih gak bakal nekat.” jawab Kang Guru.

“Tapi asik juga kayaknya. Kalo anak-anak Indonesia sudah biasa curang sejak dini. Pasti lulusannya bakal dicari negara-negara asing buat jadi ahli taktik dan strategi. Wuah, devisa itu!” kata Mas Roy iseng sambil ndrengenges.

“Hus! Ra sah ngawur!” hardik Lik Power pada cucunya yang langsung terdiam. Lik Power menoleh ke Kang Guru dan bertanya. “Di sekolah sampeyan ada curang-curangan seperti ini?” selidik Lik Power.

“Hehehe…halah, sekolah gratis aja mau pake cara licik sperti ini. Mau lulus apa ndak yo sak karepe bocahe. Kalo mau sekolah seumur idup disana juga terserah…hehe” kekeh Kang Guru yang mengajar di SD-SMP satu-satunya yang ada di desa Carangpedopo.

“Wah, iya ya Kang. Biar aja gak lulus, kenapa emang kalo gak lulus? Malah ada yang sampe bunuh diri. Mesakno. Gak lulus itu berarti sekolahnya tambah 1 tahun. Dibanding sama anak yang lulus SMP/SMA 3 tahun, yang lulus 4 tahun jelas ilmunya lebih hebat. Ya, to?”  kata Cengkir ceria.

Menutup Obrolan Sore kali ini.

Tulisan terkait :
* Nilai Tinggi, Harga Mati
* Haramkanlah uan
* Ilmu Curang
* Gagalnya Sebuah Negara
* Satu Lagi Korban UU ITE Ituh