Ayam den Lapeh

Luruihlah jalan Payakumbuah
Babelok jalan kayujati
Dimahati indak karusuah
Ayam den lapeh

Ai ai ayam den lapeh
Mandaki jalan Pandai Sikek
Manurun jalan ka Biaro
Dima hati indak ka maupek
Ayam den lapeh
Ai ai ayam den lapeh

Sikua capang sikua capeh
Saikua tabang saikua lapeh
Lapehlah juo nan ka rimbo
Oi lah malang juo

Pagaruyuang Batusangka
Tampek bajalan urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Ayam den lapeh
Ai ai ayam den lapeh

Sebetulnya sih, pengennya nulis janji saya soal format UFD di linux, atau Kopdang dengan Blogger Endar session dua : Koneksi HP Smart-Ubuntu dgn Mantra…tapi, begitu denger lagu Ayam den Lapeh yg diaransemen ulang Ten2Five kok malah nulis ini (doh).

Setiap mendengar lagu ini,
entah kenapa seperti love song,
saya selalu takana (terkenang) ranah minang (saya curiga : apa karna liriknya semuanya pake bahasa Minang,ya?). Itu berarti saat pertama kali perjalanan saya lintas pulau sendirian. Yaitu saat kelas 5 SD.

Perjalanan seluruhnya saya lalui dengan menumpang bus (tanpa saya harus duduk disamping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendarai…dst).
Saat kelas 5 SD, perjalanan itu begitu mendebarkan : Pus-pas saat di terminal Pulo Gadung (buat pindah beli tiket bus trans-Sumantera) yg full orang berwajah sangar dan bertatto.
Geram ketika waktu makan, tapi karna anak ketjil, jadi tidak dilayani. Begitu dilayani, tidak mau memberikan nasi tambahan.
Menerapkan trik jauh sebelum iklan “kiriman uang mahasiswa” ada. Yaitu : mengambil kuahnya saja, dan lauknya mengambil yang sekiranya tidak dihitung karena berkurang sedikit…misal : udang ngambil 2 ekor…dst.
Plus, 3 hari 3 malam perjalanan di bus yang membuat kaki bengkak.

Semua terbayar saat menginjak ranah Minang.
it’s awesome!

Memang tidak cukup lama buat saya bisa menerjemahkan lagu “Ayam den Lapeh” diatas. Tapi saketek-saketek, awak lah biso baso Minang.
Beberapa saat di Minang, cukuplah membuat saya ingin tinggal selamanya disana.

Seiring berjalannya waktu,
beberapa tempat di Sumanterah pernah saya kunjungi :
Muaro-Tebo : disini saya berkesempatan menyusuri sungai Batanghari dengan perahu kecil yang terasa hampir terbalik saat ada perahu motor besar lewat, karna gelombangnya…kabarnya sih, sekarang Muaro-Tebo dah berkembang tak terkendali pesat…Jadi merindukan para monyet yang bercengkrama tiap sore di hutan pinggir jalan ; babi hutan tiap malam ; kalajengking di kamar mandi ; ular dimana-mana ; dan margasatwa pemacu jantung lainnya.
Muaro-Bungo ; Bangko-Surolangun ; Jambi ;Muaro Tembesi ; Muaro Enim ; Palembang ; Lahat (yang harus slalom-race menghindari hadangan para bajing loncat)
Terakhir : mBengkulu
Jalan kesana-nya aja dah bikin pus-pas…tapi semua dibayar dengan pantai rokok Long-Beach Pantai Panjang dan kotanya yang nan luas dan sepi😛

Semakin kesini,
Bekasi,
mBandung…yang bikin shock dengan mojang2 geulisnya (kok bisa sih ngumpulin awewe cuantik2 sebanyak itu dalam 1 kota?)
Ngayogyakarta Hadiningrat,
Suroboyo,
mBali.

Setelah sadar dan bikin KTP,
ternyata hidup saya, saya habiskan untuk melintasi 1/4 Endonesiah.
Akibatnya,
saya langsung dimasukkan golongan Jelata yang BPS-pun malu menuliskannya sebagai statistik.

Akhirnya,
saat saya memutuskan untuk menetap…
Saya masih harus mengejar setidaknya 2 mimpi saya yang belum terpenuhi, karena sibuk memenuhi keiingan orang lain.

Untuk seseorang, maafkan hamba…