Pernah bermain catur sendiri? Pihak mana yang akan Anda menangkan, hitam atau putih? Atau Anda tidak akan tega mengalahkan salah satunya?

Kesan inilah yang saia dapat saat membaca komik berseri “Death Note” karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata. Tokoh Protagonis dan Antagonis ditempatkan sejajar. Membuat istilah protagonis dan antagonis menjadi “abu-abu” bagi pembaca. Mau memilih mana, seorang yang diberi kemampuan untuk membunuh penjahat-penjahat yang memang seharusnya lenyap di muka bumi dengan berbekal “Death Note, sehingga bumi menjadi lebih baik dan damai? Atau Detektif dan pihak kepolisian yang memandang bagaimanapun juga membunuh adalah kejahatan dan setiap nyawa manusia adalah berharga?

Kedua tokoh ini saling berseteru dan ingin membunuh satu dengan yang lain. Ada satu yang menghalangi mereka, Pemilik “Death Note” harus tau nama asli dan wajah yang harus dibunuh. Sedangkan sang Detektif, harus punya bukti kuat untuk menjatuhkan orang yang diburunya.

Tidak seperti cerita detektif pada umumnya, Sang Pemilik “Death Note” dan sang Detektif yang memiliki tingkat kecerdasan yang berimbang, sering sama ditampilkan buah pikirannya di dalam hati. Dan pikiran itu biasanya sama. Seperti bermain catur sendirian, kita tahu pikiran bidak lawan karena lawan kita adalah pikiran kita sendiri, demikian juga Tsugumi Ohba menjalin ceritanya.

Menariknya, kedua tokoh yang berseteru ini telah dipertemukan di vol.3! Bahkan mereka harus berpura-pura bekerjasama untuk menjadi lebih dekat. Untuk mengetahui nama asli sang detektif, dan untuk mengetahui bukti kuat sang Pemilik “Death Note”. Mereka bisa melakukan ini karena, sang Pemilik “Death Note” adalah anak Kepala Bagian Penyelidikan Kepolisian Jepang. Mereka saling menjebak saat berpura-pura bekerja sama. Tapi sulit, karena kecerdasan dan pola pikir mereka sama, ditambah lagi tidak ada yang tau nama asli sang Detektif. Sedangkan sang Pemilik “Death Note” sendiri sulit dibuktikan kesalahannya, karena “Death Note” itu sendiri adalah buku catatan kematian dari “Shinigami” (Dewa Kematian)! Jadi selama bukunya belum ditemukan, berarti sang Pemilik belum bisa ditangkap.

Cerita berkembang begitu rapat, tindakan-tindakan yang bakal dilakukan lawan sudah terpetakan di pikiran. Demikian juga sebaliknya. Sehingga (mungkin) penulis perlu memasukkan tokoh berikutnya yang sedikit mengacaukan timbangan. Walau kadang terkesan agak memaksa.

Walau ini agak mengganggu dan datangnya tiba-tiba. Tapi demikianlah Kisanak, Kalau kita melakukan pembunuhan, akan begitu banyak faktor yang diluar kuasa kita yang mengarahkan kita ke tiang gantungan. Begitu banyak faktor kebetulan yang semakin membuka kedok kita. Banyak hal yang diluar kendali kita yang memaksa kita untuk membunuh sekali lagi dan lagi, untuk menutupi jejak kita.

Demikian pesan moral yang bisa kami sampaikan. Selanjutnya kembali ke “Death Note”. Secara keseluruhan “Death Note” adalah cerita yang luar biasa. Cerita “abu-abu” dan cerdas selalau menjadi penyegar di tengah cerita yang begitu-begitu saja.

Iklan