Memang tidak ada panutan di jaman ini yang dapat melebihi Rosullulloh Muhammad saw.

Pas lagi cari-cari tentang Ubuntu, aku menemukan kisah ini disini. Jadi ngeri kalo ngliat betapa jauh keseharian Beliau dengan hidupku selama ini.

Hidupku….seperti yang dinyanyikan Opick:

“Kubuka jendela pagi, dan dosa pun menghampiri

Jerit suara hati, kuingkari…”

Semoga kisah ini akan jadi arsip pengingat jikala jalanku semakin melenceng.

————————————————————————-

Setelah nabi Muhammad meninggal, sahabat Abu bakar senantiasa ingin meniru setiap amal perbuatan Nabi Muhammad, sampai suatu ketika dia bertanya pada Aisyah.

“amalan Rasul apa lagi yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab ” uuhhmm , setiap pagi ,. menjelang wafatnya beliau, pada saat beliau masih sehat, setiap pagi dia menyuapi orang buta yang duduk di penghujung jalan itu”

“bukankah pria buta itu adalah seorang yahudi ? lagipula dia selalu mencerca dan memaki nabi Muhammad” kata Abu Bakar

“iya, memang, dia selalu mencaci dan memperolok nabi, tapi setiap pagi Nabi selalu memberinya sarapan, dan Nabi tidak pernah memberitahukan siapa dirinya sebenranya, karena jika yahudi itu tahu, niscaya dia tidak akan mau menerima bantuan Nabi” kata Aisyah

Namun, karena keinginannya untuk meniru amalan rasul sangat tinggi, Abu Bakar mendatangi pria buta itu sambil membawa sepiring bubur gandum.

Ketika Abu Bakar datang, Pria buta itu langsung tersenyum, dia mencium aroma bubur gandum itu, dan artinya dia akan segera mendapatkan makan.

Setelah duduk di depan pria yahudi itu, Abu Bakar segera menyuapkan bubur gandum tersebut. Dan seperti biasanya, pria itu tidak berhenti untuk mencela dan menggunjing nabi Muhammad.

karena jengkel, Abu Bakar segera menyuapkan sendok bubur berikutnya. Seketika itulah pria yahudi tadi menampik sendok bubur.

“siapa kau ?!  kau bukanlah orang yang biasa menyuapkan nasi kepadaku !” hardik pria yahudi itu

“pria itu selalu lembut setiap menyuapiku, tidak pernah dia memberikan suapan berikutnya ketika aku masih belum menelan !” lanjut pria yahudi itu

Dengan mata menahan air mata haru, mengetahui betapa lembut sikap Rasul, bahkan pada orang yang membencinya, Abu Bakar menceritakan bahwa dia bukanlah orang yang biasa menyuapinya.

“orang yang selalu memberimu makan pagi adalah Muhammad, orang selalu engkau caci dan cela setiap hari, bahkan ketika engkau sedang disuapinya” ujar Abu Bakar.

Mendengar semua itu, dan menyadari bahwa Nabi Muhammad telah wafat, dan dia tidak sempat meminta maaf, yahudi itupun menangis dan menyesal sedalam – dalamnya,. dan dengan hidayah dari Allah, pria yahudi inipun luluh hatinya, saat itu juga dia berucap Dua kalimat Shahadat.

Subhanalloh…