Bajakan,
Wow,
Sudah begitu menggurita di negeri ini. Sampe-sampe kita sendiri bingung saat membeli barang, “Ini barang bajakan bukan,ya?”

Kita saksikan, betapa sibuk para produsen melindungi produknya. Mereka menggunakan tanda hologram. Masih dibajak juga.
Menggunakan tanda air – masih nggak mempan
Tanda mata…
pundak
kaki
lutut
kaki, lutut…
kasian…

Tentu saja disini berlaku hukum pasar,
“Siapa yang bertindak seenaknya di pasar, bakal dihajar preman pasar” (Pradna – dari definisi bebas tentang segala sesuatu🙂 )
artinya:
Kalo barang bajakan bisa laris manis, tentu saja banyak para investor barang bajakan yang datang meramaikan pasar.
sub artinya:
Begitu senangnya masyarakat dengan produk-produk bajakan, semakin giat pula para produsen (produk) bajakan membanjiri pasar. Dan ketika kita sadar, kita sudah tenggelam oleh banjir bajakan. Akibatnya, menjadi sulit untuk menentukan mana yang asli dan mana yang palsu.

Salah satu alasan utama masyarakat memilih produk bajakan adalah:
“yang asli lebih mahal, mas!”

Alasan ini kalo dibahas bisa menghabiskan dua blog (yey, satuan ukuran baru, nih). Tapi coba sekarang kita menginventaris jumlah barang bajakan yang jadi koleksi kita…

Wah… (boleh dibaca: “Wah… banyak nian!” ato dibaca: “Wah…nggak ada tuh)

eerr, tentu ini termasuk koleksi bokep bajakan kita juga dihitung.

Artinya:
Kita begitu dekat dan terbiasa dengan kegiatan yang merampas hasil karya orang lain (kayaknya pernah baca dimana ya? Oh disini ).
Pertanyaannya:
kok, waktu hasil karya budaya bangsa kita dibajak tetangga sebelah kita bisa marah?
kok, waktu kita make produk bajakan kita nggak marah pada diri sendiri?
Intinya:
Kita selalu menginginkan sesuatu tanpa kita mau bersusah payah: berusaha; menabung buat beli yang asli; dll (paling asik pake “dll” kalo keabisan uraian😉 )
Kita selalu pengen sesuatu yang cepat, murah tanpa peduli apakah itu merugikan orang lain ato tidak (ada 220 juta lebih penduduk Indonesia, terlalu banyak untuk kita pedulikan)

cut!
Sebentar, sebentar…
Disini sudah dijelaskan kalo:
kita = kito (Jawa – red) = aku
Jadi kata “kita” bukanlah “aku dan Anda”, tapi cuma “aku”
Jadi bukan membicarakan Anda, kok. Tenang aja.
Action!

ehm, lanjut..
Satu contoh yang sangat sulit dihindari dan tidak habis-habis dibahas adalah Operating System (OS; bener nulisnya?) komputer.
Tentu saja, kita tidak memaksakan untuk menggunakan OS tertentu.
Ini murni jadi kebebasan kita untuk menentukan apa yang terbaik buat kita.
Kalo kita kita mampu lalu menginginkan kemudahan dan kenyamanan, kenapa tidak kita memilih OS berbayar yang terkenal dan bermerek. Cuma, yang perlu diingat, bukan cuma OS-nya saja yang berbayar, lho. Program-program pendukung (office, multimedia,dll) yang terkenal dan bermerek kebanyakan juga berbayar dengan harga lumayan. Dan yang perlu diingat lagi, satu lisensi biasanya cuma buat satu komputer.
Sekali lagi,
Itu kalo kita mampu. Kalo ndak mampu?
Ya, jangan dipaksa-paksain. Apalagi sampe menelantarkan anak istri buat beli sekeping cd Program asli.
Kalo kita ndak mampu pake modal finansial untuk mendapatkan kenyamanan dan kemewahan suatu OS, ya kita pake modal waktu dan tenaga kita buat belajar sesuatu yang baru, meninggalkan zona nyaman.
Banyak free open source OS diluaran sana.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, OS open source bisa membuat kita pening tujuh keliling saat pertama kali belajar. Tapi aku yakin kalo kita bersusah payah disini, kita akan tau berartinya menghargai hasil karya orang lain.

be legal; be ngung?
Nggak juga; banyak alternatif kita tetap bisa menggunakan produk legal.

cut!
Sebentar, sebentar…
Disini sudah dijelaskan kalo:
kita = kito (Jawa – red) = aku
Jadi kata “kita” bukanlah “aku dan Anda”, tapi cuma “aku”
Jadi bukan membicarakan Anda, kok. Tenang aja.
Action!

THE END

“yah, kok abis”