Pengalaman Linux Pertamaku sesulit Malam Pertamaku🙂
Berikut ceritanya,

Sungguh,

seperti kebanyakan pengguna komputer yang lain, aku mendengar kabar linux sudah sejak lama. Dan begitu dengar kabarnya, aku langsung tertarik. Cuma sebatas tertarik.

Sama seperti kebanyakan pengguna komputer yang lain, aku sudah terbuai dengan kemudahan sebuah operasi sistem yang menawarkan kemudahan – meskipun bajakan.

Meskipun dunia linux semakin berkembang, bahkan beberapa fiturnya ada yang diadopsi oleh OS bajakan yang aku gunakan, sku masih enggan untuk meninggalkan zona nyaman. Ditambah lagi, aku selama ini belajar komputer cuma sebatas apa yang aku butuhkan saja.

Aku lalu memarahi diri sendiri, “Bagaimana ini, dulu kamu suka belajar komputer walo kamu tidak bisa sama sekali!”

Lagi-lagi cuma sebatas itu.

Kemudian,
Gaung linux semakin menggebu-gebu, teman-teman satu kos pun sudah mulai berteriak-teriak, “Nyoba linux, yo! Yo Nyoba Linux!”
tetep aja cuma sebatas itu.

Akhirnya,
kutukan itu datang juga!
Karena terlalu lama menggunakan OS bajakan yang notabene merampas hasil karya orang lain (pernah mbaca tulisan ini di buku Pelajaran Pancasila kelas berapa,ya🙂 ), aku dapet project buka warnet Linux (warnux) di Kota Pati yang habis dilanda badai sweeping HAKI.
“Mam**us!” batinku. Saat itu melihat wujud linux aja aku belum pernah!

Dengan semangat orang kalap aku mengerahkan semua jurusku buat belajar linux: beli beberapa buku linux, nyoba beberapa distro linux, gogling di internet, memeras orang-orang supaya mengeluarkan ilmu linux-nya padaku😀

Sebagai bahan pembelajaran (baca: sebagai orang yang nol besar di dunia linux), aku pilih PCLinuxOS 2007. PCLOS ini aku install dulu komputerku, sebelum berangkat ke medan laga (baca: ngerjain proyek warnux).

JREENG…
Muncullah pertanyaan-pertanyaan ajaib:
* Nginstall program (paket)-nya gimana? kok nggak ada next-next-nya
* depedensi itu apa?
* repository itu apa?
* kalo mo ini gimana? kalo mo itu gimana?

# kernel panic! (akunya, bukan komputernya)

Phew,
Sama seperti belajar apapun untuk pertama kali, kalo mengingat-ingat betapa panik, bingung dan frustasinya aku saat itu, membuatku tersenyum (bayangin yang manis2! seperti itulah senyumku :-p ).
Seperti kata Toyotomi Hideyoshi dalam Taiko karya Eiji Yoshikawa-sensei, “Kesenangan yang diperoleh pria adalah saat berhasil mengatasi kesulitan dan sesaat berhenti sejenak untuk menoleh kebelakang melihat jalan yang kita lalui.” (sori kalo redaksinya tidak tepat, soalnya bukuku ini ketinggalan di Purwokerto).

Kesimpulannya:
Jangan takut meninggalkan zona nyaman,jika zona nyaman itu membuatku menggunakan produk ilegal.
Toh, dulu belajar komputer juga dari awal.

Walaupun sama susahnya,
pertama belajar linux sama senangnya dengan malam pertama😀