Arsip

Archive for the ‘Poem’ Category

Hadirlah…

Mei 25, 2011 10 komentar

Hadirlah…

meski hanya dalam diam

Hadirmu,

menguatkanku menjalani hukuman ini

di sepanjang sisa hidupku

Categories: Poem Tag:

satu, dua, tiga… Egois (selfish)

November 27, 2010 22 komentar

#1

Sayang,
urus sendiri dulu urusanmu, ya
Aku sedang menyiapkan peti matiku

#2

Sayang,
selesaikan sendiri dulu masalahmu dengan dirinya, ya
Aku sedang menyiapkan kuburanku

#3

(will)
Nah Sayang,
tolong urus mayatku, ya
————————————————————————————————————————————————–

Ini adalah bagian Kedua dari Trilogi “Shadow” :
1. Tak Bisakah?

2. satu, dua, tiga… Egois (selfish)

3. Reveal

Tak Bisakah?

November 7, 2010 20 komentar

Saudaraku,
tak bisakah kau merebut hati dia seutuhnya, sebelum kalian menikah?
karena engkau berlipat lebih baik dari lelaki yang menyakiti dia.

Saudaraku,
engkau hanya perlu memahaminya, karena dia hanya perlu dipahami
engkau hanya perlu membuatnya bicara, karena dia tidak bisa bicara begitu saja
engkau hanya perlu mendengarkannya, karena dia jarang didengarkan.
Read more…

Categories: Poem Tag:,

Meretih – Letih

Desember 4, 2009 36 komentar

meretas – lengas
meranggas – ganas
meluruh – peluh
meretih – letih
menghadapi mu puspa – juwita

membiru – haru
menghitam – kelam
memerah – darah
memutih – perih
mengabdi padamu puspa – juwita

menyerah – kalah…

Categories: Poem Tag:, ,

Shinobi

Juni 13, 2009 39 komentar

Sekali lagi,

lapar dan dingin aku alami saat ini.

Tlah bertahun lalu,

saat pelatihan, saat melakukan melakukan sesuatu yang tidak aku mau.

Membuat kekacauan,

menjadi informan,

mengobarkan pemberontakan,

dalam kerahasiaan.

Memasang wajah susah walau sedang senang,

mengganti wajah senang walau dirundung malang.

Selalu aku lalui dalam lapar dan dingin.

Bagaimana bisa kenyang dan hangat,

kalau kerjaannya bikin orang lain hilang dan lewat?

Itulah kenapa rasa lapar perutku ini setingkat di atas lapar bawah perut.

Rasa lapar bawah perut bisa hilang dengan 1200 perak,

buat 3 minggu dengan si sabun Tjap Merak.

Tapi 1200 rupiah,

cuma cukup buat sebungkus keripik renyah.

Mana bisa bikin kenyang dan hati senang,

tubuh hangat dan berkeringat.

Meski begitu,

saat kejayaan menghampiriku,

aku memutuskan tuk berlalu,

meninggalkan urusan yang tak sesuai hati nuraniku.

Meninggalkan bayang-bayang suram,

biar hidup tak jadi muram.

Ternyata, oh ternyata…

di sini sama saja!

Aku masih kelaparan.

Hanya satu bedanya,

meski nun jauh disana,

aku kini mulai merasakan hangatnya sang surya.

“21.52…dibawah halusinasi puncak lapar malam ini”

Categories: Poem Tag:, ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya.