Arsip

Archive for the ‘Obrolan Sore’ Category

Obrolan sore 17 : Antri

Desember 8, 2011 9 komentar

Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Mas Roy, telah duduk mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia.

Para pemuja Obrolan Sore kali ini menunjukkan ekspresi berdeba-beda.

Mas Roy terlihat segar. Rambut yang terlihat mengilap dan selalu basah. Wajah berseri. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan putri kaur Kesra Desa Carangpedopo. Senandung lagu romantis terlantun dari bibir Mas Roy.

Berbeda dengan Mas Roy sang Putra Mahkota Desa Carangpedopo,

Juragan Brono duduk sambil sesekali mengaduh kesakitan. Separuh wajahnya terlihat membengkak merah-kebiruan. Bibir Juragan Brono yang memang sudah tebal, semakin terlihat tak tertahankan, menggelembung mengerikan. Mata kirinya semakin tidak terlihat karena pipinya seolah baru saja disuntik silikon.
Read more…

Obrolan Sore 16 : Cengkir Hilang!

Juni 4, 2011 15 komentar

Sore Hari.

“Ceng! Cengkir!” panggil Kang Sronto.

“Kamu di mana, to Ceng?” seru Lik Power sambil menggeledah rumah.

“Gak akan kami apa-apain kok, Ceng.” bujuk Mas Roy sambil melongok, malu-malu, ke dalam kamar mandi.

“Nggak usah sembunyi di tempat gelap kayak gitu, to Ceng. Bisa bikin hatimu jadi gelap, lho Ceng!” kata Juragan Brono prihatin. Tangan gemuknya menggasak di kegelapan lemari makan sambil prihatin kenapa isinya sedikit sekali.

Berapa saat kemudian, Kang Sronto, Lik Power, Mas Roy dan Juragan Brono kembali berkumpul di teras. Duduk melingkar di depan meja bundar dari jati yang telah jadi saksi ratusan Obrolan Sore.

Tidak ada sekedar hidangan kopi pahit dan ketela goreng sore ini.Begitu juga tidak ada Cengkir sore ini sebagai tuan rumah.
Read more…

Obrolan Sore 15 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!

April 8, 2011 22 komentar

Sore hari.

Lik Power, Mas Roy, Kang Sronto, burung-burung, Tukang Cerita, angin, semua terdiam-ternganga melihat apa yang dilakukan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Di depan mereka semua, Cengkir sedang melakukan ritual misterius. Cengkir berpindah dari tiang ke tiang yang lain di rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap tiang yang Cengkir pegang dengan satu tangan, tubuhnya bergelinjangan.

“Chaiya, chaiiiyaaa…” mulutnya yang tebal meneriakkan mantra-mantra aneh. Mukanya jadi sendu, tangan satunya yang tidak memegang tiang dilambai-lambaikannya.

“Kamu lagi apa, to Ceng?” tanya Kang Sronto, tidak tega melihat sohibnya tersesat melakukan ritual tidak jelas seperti itu.
Read more…

Obrolan Sore 14 : Teror!

Agustus 5, 2010 34 komentar

Sore hari.

Wajah-wajah lelah duduk di kursi kayu beranyaman plastik, mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia. Membenamkan diri di kursi masing-masing, mereka menghisap rokoknya dalam-dalam.

Angin sore hari menentramkan yang biasa ikut serta menikmati setiap Obrolan Sore, kini seakan ikut tercekat. Membuat udara terasa meretas-lengas.

Baru saja para pemuja Obrolan Sore kali ini membereskan puing-puing rumah Uwa Dasem yang luluh-lantak akibat “Teror Hijau”. Uwa Dasem sendiri kini tergolek lemah di Puskesmas (mana mampu Uwa Disem bayar Rumah Sakit kota).

“Gimana ini, Pak Lik?” tanya Kang Sronto tidak tahan dengan kebisuan.

“Aku yo jadi pusing, je. Mau digimanakan ini sudah jadi bancakan desa. Banyak orang yang sudah ambil jatah berkat proyek ini. Jadi, yo susah.” jawab Lik Power sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut pusing.

Semua mata melirik Juragan Brono.
Read more…

Obrolan Sore 13 : Ledakan Video Pendidikan

Juli 8, 2010 37 komentar

Sore hari.

Seperti di sore-sore sebelumnya, mengelilingi meja bundar kayu jati yang sudah menghitam termakan usia, duduk…

“Sopan santunnya, kalau lama ndak kelihatan ya basa-basi ngomong apa ke Pembaca…ndak langsung nggambus,cerita seenaknya sendiri!” potong Lik Power sambil menghisap rokok tingwe (tingwe, nglinthing dewe : swa linthing –red).

“Ehm…euh, maaf kepada Pembaca Budiman, karena satu dan lain hal Obrolan Sore jadi lama terhenti.” Tukang Cerita menjura hormat demi menyampaikan permintaan maafnya. Lanjutnya.”Nah mari kita mulai Obrolan Sore…”

“Jangan-jangan sibuk syuting sama 32 artis?” celetuk Kang Sronto.
Read more…

Obrolan Sore 13: Selamatan 100 hari Kebun Binatang Carangpedopo

Februari 6, 2010 21 komentar

Sore Hari.
Muka-muka lelah tapi gembira menghiasi hadirin Obrolan Sore Kali ini. Juragan Brono, Mas Roy, Bang Sadela dan Lik Power duduk bersandar dalam dengan sikap puas. Senyum mengembang diantara mereka. Bahkan sesekali terlihat kerlip menyilaukan dari sudut mulut Juragan Brono. Hanya Cengkir yang merasa heran dengan tingkah para tamunya. Belum juga disuguhi apa-apa sudah tampak kekenyangan.

Trio Lik Power, Mas Roy dan Juragan Brono baru saja merayakan Selamatan 100 Hari Kebun Binatang Carangpedopo. Sebagai program seratus hari, pemerintahan desa Carangpedopo memembuat proyek kebun binatang. Ini tentulah bertujuan menyemarakkan suasana desa Carangpedopo. Memberikan tontonan yang menghibur bagi warga desa. Sejenak bisa mengalihkan perhatian dari rasa lapar mereka, karena warga sibuk membicarakan hiburan ini. Di mana-mana orang tidak melepaskan pandangan dari warga kebun binatang ini. Kemudian membicarakan dengan asyik di waktu kerja dan isirahat. Tingkah polah warga kebun binatang Carangpedopo ini seolah tidak habis sebagai bahan obrolan.
Read more…

Obrolan Sore 12 : Koin Unas untuk Bang Sianturi

Desember 13, 2009 39 komentar

Sore hari.
Telah duduk mengelilingi meja bundar usang di teras rumah joglo tua itu, Kang Sronto, Kang Guru, Mas Roy, Lik Power dan Cengkir selaku tuan rumah. Jamuan sore ini adalah segelas kopi kental-manis dan rokok tingwe (linthing-dewe , swa-linting).

“Katanya Unas, ujian nasional dibubarkan ya, Kang Guru?” tanya Kang Sronto membuka Obrolan Sore.

“Keputusan Mahkamah Agung, Unas memang ditiadakan. Tapi sama Pak Menteri Unas tahun ini tetap diadakan.” jawab Kang Guru.
Read more…

Obrolan Sore 11 : Tamu dari Rumah Kayu

November 11, 2009 39 komentar

Sore hari.
Semilir angin sore berhembus masuk ke teras depan rumah joglo yang telah berusia beberapa generasi. Selama beberapa generasi itu juga, setiap sore di rumah Cengkir selalu diwarnai dengan gojek-kere para pemuja Obrolan Sore. Gojek berarti bercanda, kere berarti miskin. Di tengah himpitan tuntutan kebutuhan rumah tangga, para pelakon Obrolan Sore selalu bisa menertawakan kondisi kini yang bahkan paling absurd sekalipun.

Meski beberapa kali suasana dialog menjadi sedikit panas, itu hanya terjadi selama berlangsungnya acara Obrolan Sore itu saja. Setelah itu ketegangan segera menguap digantikan topik lain di sore berikutnya. Wajar saja, ini karena warga Carangpedopo begitu pemaklum. Kalau toh nanti suatu kasus berulang kembali, paling hanya menghangatkan Obrolan Sore untuk kemudian dilupakan kembali.
Read more…

Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat

November 1, 2009 60 komentar

tolak_uu_ite

 

Sore hari.

Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.
Read more…

Obrolan Sore 09 : Dum!

Oktober 20, 2009 36 komentar

(dum = bagi, Javanese-red)

Sore hari.

Sore yang panas dan lengas. Debu tanah kapur Carangpedopo tak jarang terbawa angin, berputar menyelimuti segala macam benda yang mencoba menghalangi laju terbangnya. Kondisi seperti ini tak ayal mengurungkan langkah warga menuju rumah Cengkir untuk memulai Obrolan Sore. Mereka lebih memilih melanjutkan sedikit istirahat di sore yang penat ini.

Namun ada satu orang yang tetap semangat berderap memasuki pekarangan rumah Joglo kuno milik keluarga Cengkir turun temurun. Priyayi tersebut siapa lagi kalau bukan Lik Power. Lelaki lewat paruh baya yang masih gesit tingkah-lakunya. Cukup bangga dan nyaman sebagai Guru Desa Carangpedopo. Karena memang seluruh trah keluarganya sejauh yang bisa ditelusuri, adalah penguasa turun temurun desa ini.

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya.