Arsip

Archive for the ‘Cerita Tukang Cerita’ Category

Merapi’s Call part 5

April 20, 2011 22 komentar

Hantaran

Setelah menempatkan induk sapi dan anaknya yang baru lahir di shelter, rombongan Pro Fauna ikut bersama pasukan Kopassus mengantar Mbah Pono kembali ke posko pengungsiannya. Kedua kambing Mbah Pono juga ikut. Alasan Mbah Pono tidak ingin  meninggalkan peliharannya di shelter adalah,

“Saya masih bisa nyarikan makan buat mereka, kok.”

Lagi-lagi Mbah Pono tidak ingin merepotkan orang lain.

“Lagian, rumput di lapangan bola stadionnya kan ijo-ijo, seger-seger.” sambung Mbah Pono.

Waduh.
Read more…

Merapi’s Call part 4

April 20, 2011 1 komentar

Evakuasi

Jam setengah lima pagi, seluruh tim Pro Fauna sudah bersiap-siap melakukan misi evakuasi hewan ternak warga yang masih terjebak di desa yang terkena erupsi Merapi. Tujuan utamanya adalah mencari hewan-hewan ternak yang masih hidup, membawanya ke tempat penampungan hewan (shelter), dan merawatnya di shelter-shelter tersebut.

Rama mengajak Tukang Cerita yang kelihatannya habis shalat subuh, untuk ikut misi kali ini. Tukang Cerita hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sesaat berikutnya, Rama, Tukang Cerita beserta anggota Pro Fauna yang lain sudah duduk lesehan di bak terbuka mobil pick-up yang membawa mereka ke lokasi evakuasi.

“Bakal seru,nih.” kata Rama sambil terguncang-guncang di atas mobil pick-up.

“Kenapa?” tanya Tukang Cerita.
Read more…

Merapi’s Call part 3

April 20, 2011 2 komentar

Pro Fauna dan Jogloabang

Sudah beberapa hari ini pasukan Pro Fauna menginap dan menjadikan Jogloabang yang terletak di Desa Mlati, Sleman – Yogyakarta sebagai base-camp. Secara garis besar, Pro Fauna adalah sebuah organisasi penyelamat satwa. Tugas mulia mereka kali ini adalah menyelamatkan satwa-satwa (termasuk hewan ternak) ke shelter-shelter pengungsian ternak sementara. Mereka juga memberi makan secara rutin satwa dan ternak yang berhasil mereka evakuasi.

Hubungan antara pemilik dengan ternaknya sering kali dianggap remeh. Banyak yang tidak habis pikir, untuk apa mempertaruhkan nyawa untuk sekedar menengok, memberi makan ternak mereka. Di sinilah teman-teman dari Pro Fauna secara profesional mengambil alih tugas para pemilik ternak. Menyelamatkan dan memelihara, sehingga peternak pun bisa tenang.

Sesungguhnya ternak bagi pemilik ternak adalah separuh dari kehidupan mereka. Karena biasanya, itulah harta yang paling berharga untuk melanjutkan kehidupan. Sehingga, begitu dipastikan bahwa ternak mereka baik-baik saja, demikian juga jaminan masa depan mereka untuk melanjutkan kehidupan…dimanapun mereka akan tinggal kelak. Untuk itulah, aksi Pro Fauna dan teman-teman lain yang menyelamatkan satwa dan hewan ternak ini terasa begitu berarti.
Read more…

Merapi’s Call part 2

April 20, 2011 1 komentar

Merapi’s Call

Tidak mempedulikan orang-orang yang sibuk melindungi diri dengan ponco (jas hujan), atau mengantri masker yang diberikan gratis oleh organisasi yang begitu cepat-tanggap, Tukang Cerita malah asik berdiri di alun-alun. Berdiri diam, mencoba merasakan setiap butir abu vulkano putih yang jatuh dirambutnya, dikulitnya. Napasnya terasa sesak menghirup udara yang sudah dikepung debu kiriman Merapi. Lelaki sableng itu mendongak ke arah timur. Tidak banyak yang dilihatnya selain matahari pucat karena tertutup awan debu yang dikirim oleh Merapi, meski berjarak 534 kilometer dari kota ini.

Sempat, lelaki yang suka seenaknya ini membuat status di salah satu jejaring sosial (dengan sembarangan, pastinya),

“Sudah 2 hari gak ujan. Kalau besok tidak hujan juga, berati kota ini memasuki musim kemarau.”
Read more…

Merapi’s Call part 1

April 20, 2011 7 komentar

Cerita ini sebetulnya memiliki inti dari cerita Merapi terdahulu. Hanya saja, ada permintaan dari Anazkia untuk berpartisipasi mengumpulkan cerita Merapi untuk dijadikan buku antologi yang keuntungannya akan disumbangkan kepada korban Merapi. Karena saya sudah punya tulisan sebelumnya di Pojok Pradna ini, tanpa pikir panjang saya kopaskan tulisan dari sini. Ternyata memang pikiran saya kurang panjang, tulisan yang cuma 2 halaman itu tidak memenuhi syarat. Anaz, kemudian meminta saya untuk memperpanjang…. uhuk, cerita saya.

Jadilah, saya gabungkan beberapa cerita yang saya dengar atau alami selama di seputar Merapi. Hanya saja, saya ini dikaruniai untuk susah mengingat nama-nama orang. Maka, mohon maaf jika nama-nama yang ada dicerita ini saya fiksikan. Demikian juga beberapa detilnya saya fiksikan dan mix-kan hingga jadi 1 kesatuan cerita. Tapi, secara garis besar cerita ini diangkat dari kisah nyata.

Kemudian, daripada naskah ini tertimbun di tumpukan folder, saya berkeinginan untuk kopas di Pojok Pradna (sekedar buat arsip-lah). Karena cerita ini “berdurasi” 10 halaman, saya kawatir akan merusak mata yang nekat membacanya ^_^. Jadi, sepertinya lebih baik kalau dibagi menjadi 5 part, sesuai 5 sub-judulnya,ya.

Begini ceritanya ….JRENG…JREEEENG…
Read more…

Sinopsis Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

Januari 27, 2011 23 komentar

ebook Kumpulan Cerpen Remaja

Sekedar merawat promosi aja ^_^

Telah hadir ebook (format .pdf) kumpulan cerita remaja “Tunas”.

Tebal:  42 halaman + iv

Terdiri dari 5 cerita.

Anda tidak perlu kuatir akan menemukan cerita yang berat atau justru remaja-lebay-termehek-mehek di sini. Apa yang akan Anda dapatkan adalah cerita yang cerah, ringan dan menikung tajam di akhir.

Ini sedikit nukilan (kalau tidak bisa disebut sinopsis) dari “Tunas” :
Read more…

Ebook Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

Januari 10, 2011 39 komentar

Dulu pernah membaca pendapat seorang seniman senior yang maaf lupa namanya, berpendapat seperti ini :

Banyaknya pertunjukan gratis hanya akan merugikan. Bagi seniman, akan membuat dia sekedar manggung saja tanpa menunjukkan performa sesungguhnya. Toh sudah dibayar. Mau ada penonton atau tidak yang penting manggung, toh sudah dibayar. Bagi penonton hanya akan membuatnya tidak mengerti apa yang ditontonnya. Toh tidak bayar. Tidak peduli seniman yang manggung bermain dengan baik atau tidak, toh tidak bayar. Jika terus berlanjut, tentu saja akan merendahkan mutu kesenian itu sendiri

Hal ini kemudian dikuatkan beberapa waktu kemudian oleh Pak Rusmanto, pimred Majalah Infolinux di salah satu seminar yang saya ikuti :

Gratis itu tidak mendidik. Karena hanya akan membuat orang tidak menghargai apa yang dia dapat

Ditutup dengan pernyataan seorang Mpu dari Internet For Kids,

Internet Untuk Anak hanya gratis pada jam tertentu. Karena gratis semua, siapa yang menutup biaya operasionalnya?

Dengan pertimbangan seperti itulah maka jadi bisa menutup alasan utamanya yang sedang kelaparan, saya memutuskan untuk mengenakan tarif  untuk ebook berformat PDF, yang berisi kumpulan cerita dari Tukang Cerita yang berjudul “Tunas”.


Read more…

Reveal

Desember 18, 2010 3 komentar

Yang Terhormat,
karena semua sudah berakhir, tidak adil rasanya kalau hamba tidak mengungkap ini.

Yang Terhormat,
ingatkah cerita tentang anak yang berbohong dua kali mengatakan ada serigala masuk kampungnya, dan cerita ketiga warga sudah tidak percaya lagi? Padahal benar-benar ada serigala yang menyantap ternak warga.

Itulah dasar dari dunia telik sandi (Covert-Ops). Membuat cerita seolah-olah ada berulang kali sehingga tercipta di benak bahwa itu benar-benar ada, menghantamnya dengan “kenyataan” bahwa cerita itu ternyata tidak ada, padahal sebenarnya cerita itu memang benar-benar ada… atau memang benar-benar tidak ada tapi disajikan secara ada dan tiada.

Memang terdengar seperti pelajaran filsafat yang membingungkan. Tapi ini adalah filsafat yang diterapkan secara keji untuk suatu kepentingan.
Read more…

satu, dua, tiga… Egois (selfish)

November 27, 2010 22 komentar

#1

Sayang,
urus sendiri dulu urusanmu, ya
Aku sedang menyiapkan peti matiku

#2

Sayang,
selesaikan sendiri dulu masalahmu dengan dirinya, ya
Aku sedang menyiapkan kuburanku

#3

(will)
Nah Sayang,
tolong urus mayatku, ya
————————————————————————————————————————————————–

Ini adalah bagian Kedua dari Trilogi “Shadow” :
1. Tak Bisakah?

2. satu, dua, tiga… Egois (selfish)

3. Reveal

Naskah Teater Remaja (part 4)

Oktober 24, 2010 10 komentar

Meleset 2 minggu dari niat mulia menerbitkan lanjutan Naskah Teater Remaja setiap minggunya, akhirnya Naskah Teater Remaja (part 4) ini bisa diterbitkan.

Tidak tahu karena banyak yang terjadi 2 minggu belakangan ini, atau karena memang bagian keempat ini termasuk isu yang sensitif bagi saya (:mrgreen:) . Bagian yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat ini, bisa mulur 2 minggu.

Bagian keempat ini menceritakan tentang romansa dua orang muda. Saya tidak ingin membuat adegan romantis yang terlalu heboh (sumpah, jangan baca : saya ndak tau sama sekali soal romantisme).
Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya.