Beranda > Gerakan Desa Membangun > Lokakarya Desa Membangun III, Desa Dermaji, Banyumas

Lokakarya Desa Membangun III, Desa Dermaji, Banyumas

lokakarya desa membangun desa dermaji banyumas

Lokakarya Desa Membangun III, desa Beji, Banyumas

Dua hari luar biasa saya alami akhir pekan ini. Tanggal 11-12 Maret 2012, saya mengikuti acara Lokakarya Desa Membangun III, di desa Dermaji, kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas.

Lebih lengkapnya tentang apa itu dan acara Gerakan Desa Membangun, silakan baca tulisan saya di Blogger Banyumas :). Karena seperti biasa, di sini tempat untuk menuliskan “kesan” yang saya dapat selama acara.

Intinya sih, Gerakan Desa Membangun (GDM) adalah gerakan gotong-royong untuk mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi kepada desa guna dimanfaatkan untuk mengabarkan kepada dunia potensi desa mereka yang didukung oleh Sistem Informasi Desa yang berbasis open source.

Saya beruntung teman-teman Infest Jogja dan Jogloabang  bersedia menyisihkan sedikit tempat duduk, sehingga saya bisa menumpang mobil nyaman pergi-pulang ke desa Dermaji :D

Apalagi selepas jalan raya Lumbir masuk ke desa Dermaji, jalan berubah menjadi jalur off road dengan kelokan, turunan dan tanjakan yang bisa membuat para pecinta olahraga ekstrim meneteskan air liur. Sayangnya tidak kalau kita memakai mobil keluarga (pinjaman) yang biasa.

Tapi tidak bisa dipungkiri, pemandangan menuju desa Dermaji sangat mempesona. Di kanan-kiri jalan, terhampar lembah hijau yang luas dengan pagar perbukitan.

Kalau digambarkan dengan singkat, kita diguncang-guncang di tengah pemandangan yang menakjubkan ^_^

panorama desa dermaji banyumas

Panorama Desa Dermaji Banyumas

panorama desa dermaji banyumas

Panorama Desa Dermaji Banyumas

Sesampai di Dermaji, kita disambut dengan umbul-umbul warna-warni yang dipasang meriah di seluruh desa. Tidak cukup sampai di situ, di Balai Desa pun sudah disiapkan kesenian kenthongan untuk menyambut para tamu. Benar-benar serasa pejabat :D

spanduk selamat datang desa dermaji banyumas

Umbul-umbul dan Spanduk Selamat Datang

Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 10 pagi, Lokakarya Desa Membangun III resmi dibuka oleh Pak Camat Lumbir. Saat itu sudah hadir lebih dari 100 perwakilan dari lebih 40 desa. Termasuk “kakak pertama” gerakan desa membangun, desa Mandalamekar, Tasikmalaya, yang mengajak desa dari Cianjur dan Sukabumi.

Ini adalah acara dari desa untuk desa. Bukan program pemerintah. Mungkin karena bukan sebuah acara yang biasanya mereka harus mengikuti kebijakan yang didiktekan pada desa dengan sedikit imbalan rembesan dana (yang sebagian sudah menguap entah ke mana). Mungkin juga karena dari gerakan desa membangun ini desa jadi bisa melihat bahwa ada teknologi yang bisa mereka manfaatkan untuk “menjual” desa mereka sehingga desa bisa jadi mandiri tanpa harus sedikit-sedikit membuat proposal permintaan bantuan. Menjadikan peserta kegiatan dua hari ini yang notabene perwakilan dari desa (perangkat desa, pemuda atau badan musyawarah desa), begitu antusias mengikuti acara yang diselenggarakan di tempat yang menuju lokasinya saja harus bersusah payah.

Di sisi lain, gerakan yang sudah “menasionalkan” Mandalamekar  dan Melung  karena kerja keras warganya ini, merupakan gelombang mengejutkan bagi sebagian desa. Sehingga saya mendengar cerita-cerita seperti ini :

Nambah-nambahi gawean, bae.Langka duwite,koh. (Nambah-nambahi pekerjaan aja. Ga ada duitnya, juga.)”

Bebeh lah, nek wis bisa mundak diprentahi,bae. (Males ah, ntar kalo bisa jadi disuruh-suruh.)”

Ora mudeng. Dadi puyeng. (Nggak mudeng. Malah jadi pusing” terus pulang dan besoknya tidak kembali lagi. Meski yang diikuti adalah kelas menulis.

Memang terlihat sulit dipahami bagi yang kesehariannya bergelut di bidang informasi dan kemanusiaan. Tapi begitulah adanya.

Hidup ini sudah susah, kalau harus dibebani dengan kerja yang tidak langsung terlihat hasilnya, masih menjadi sesuatu yang terlalu absurd dan abstrak bagi sebagian warga negeri tercinta ini.

Tidak apa-apa. Itu bukan hambatan. Ketika suatu saat desa-desa di sekitarnya berhasil memanfaatkan teknologi dan potensi desa untuk “tinggal landas”, secara alami akan tersadarkan bahwa ternyata mandiri dan tidak mengandalkan bantuan yang disunat sana-sini itu lebih enak dan terhormat.

Makanya, di akhir acara, tercapai kesepakatan, salah satunya, jika web portal desa dalam sebulan tidak bisa menghasilkan 10 tulisan, maka akan disuspend untuk sementara :)

Di samping teknologi internet, GDM juga mengenalkan teknologi open source kepada desa. Open source dipilih jelas sebagai solusi berbiaya rendah. Sedangkan software bajakan itu bukan pilihan. Karena hanya akan membuat desa tidak kunjung mandiri jika harus memakai produk curian yang nanti ujung-ujungnya harus membeli produk asli dengan harga yang sangat mahal. Kalau sudah seperti itu, lagi-lagi desa didikte, tidak bisa mandiri.

Open source yang digunakan untuk kebutuhan desktop adalah linux BlankOn. Salah satu distribusi (distro) linux yang dikembangkan anak bangsa. Ringannya BlankOn benar-benar pas untuk kebutuhan PC di Indonesia yang masih banyak memakai komputer-komputer lama.

Ditambah para pengembang BlankOn yang sudah mulai banyak yang “turun” ke desa, sehingga ke depan BlankOn akan berkembang menyesuaikan kebutuhan warga desa dengan UKM-UKM-nya, melalui program yang dipaketkan bersama BlankOn.

BlankOn Banyumaspun tidak mau ketinggalan. Saat ini sedang bekerja keras untuk menerjemahkan BlankOn ke bahasa Banyumas… ihik :D

Akhir kata, semoga semangat yang ada sekarang akan terus lestari. Tampaknya untuk menjaga kelestarian semangat itu, direncanakan April nanti akan ada Lokakarya yang ke IV di desa Pancasan, Banyumas :)

peserta lokakarya desa membangun, desa beji, banyumas

Peserta Lokakarya Desa Membangun III, Desa Beji, Banyumas

Silakan baca juga :

Blogger Banyumas : Lokakarya Desa Membangun III, Desa Dermaji, Banyumas

Lokakarya Desa Membangun III, Desa Dermaji,

About these ads
  1. Maret 17, 2012 pukul 11:56 pm

    jadi follow up-nya itu membuat web portal desa ya. yang ngisi tulisannya dari perangkat desa sm pemuda2nya, gitu gak sih :D
    seperti biasa, kalo masih di awal2 selalu ada benturan peradaban. namanya jg program baru, masi ga kebayang sm mereka hasilnya nanti kek gimana.
    kalo berhasil ditunggu ekspansi yg lebih luas yes, luar Jawa mungkin :D

  2. Maret 18, 2012 pukul 1:36 am

    Sukses kang.. sayang nyong siki lagi ora menetap nang banyumas

  3. Maret 19, 2012 pukul 9:25 am

    Jadi ini hasilnya?

    keren! two thumbs up!!!!

    kalo sekarang baru Lumbir, moga nanti nyampe ke Cisumur..
    amiin

  1. Maret 30, 2012 pukul 10:31 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.874 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: