Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat

Sore hari.
Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.
Saat dibuai amarah itulah, Cengkir sang tuan rumah keluar sambil membawa nampan berisi teh tawar hangat dan jadah goreng sebagai penyemarak obrolan sore kali ini. Kang Sronto yang berdiri membelakangi Cengkir, hanya melirik sekilas pemuda kurus nan bersahaja itu meletakkan bawaannya di meja jati yang berusia beberapa generasi menjadi saksi gayengnya obrolan dan gojek kéré di teras rumah ini.
Anehnya, begitu Cengkir menaruh apa yang dibawanya, langsung terdiam melihat ke atas. Kang Sronto tidak memperdulikan kelakuan Cengkir. Matanya kembali nyalang menanti sesuatu muncul dari jalan didepannya itu.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Rombongan kecil tamu undangan, berisikan Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy, datang memasuki teras rumah joglo itu. Kaku, Kang Sronto menyilahkan duduk para tamu yang memang sengaja diundang Kang Sronto di obrolan sore ini.
Mereka pun duduk di kursi kayu beranyaman plastik yang mengelilingi meja jati bundar yang sudah berisi minuman dan kudapan. Sedangkan Cengkir masih terdiam terpaku melihat ke atas.
Setelah melonggarkan tenggorokan dengan hidangan yang ada, dan satu lintingan rokok racikan sendiri yang bahan-bahannya selalu ada di atas meja. Kang Sronto menegakkan badan, seolah seperti betara Krisna yang hendak menggugat Kurawa.
“Saya mau bertanya.” Kang Sronto membuka percakapan dengan resmi.
Lik Power sebagai ketua rombongan yang menjawab. Tak kalah resmi. “Silahkan.”
“Baru kali ini Kaur pake wakil Kaur. Apa ndak cukup sekretaris Kaur buat mbantu tugas harian Kaur?” Kang Sronto memulai gugatannya.
Lik Power melirik Juragan Brono yang baru sebentar menikmati kursi Lembaga Musyawarah Desa, sudah ditarik menjadi Kaur Perekonomian.
Juragan Brono membasahi tenggorokan dengan teh tawar sebelum menjawab. “Tugas Kaur itu semakin hari semakin berat. Jadi perlu ada wakil yang mbantu disamping sekretaris Kaur.”
“Tapi nanti jadi tumpang-tindih sama tugas sekretaris Kaur?”
“Ya ndak,lah. Kan, nanti dibikin peraturan yang jelas soal wilayah kerjanya.”
“Jangan-jangan ini karena para Kaur itu bukan dari bidangnya, jadi perlu orang-orang yang bener-bener ahli?”
“Ehm…o,ndak Kang. Semua pas di bidangnya,kok. Buktinya,saya yang pengusaha ini dimasukkan ke bidang perekonomian.”
“Hmm…brati, biar orang kayak Juragan Brono ini tetep bisa menjalankan bisnisnya dengan tenang?”
“Eh,nganu…” Juragan Brono mulai grogi. “Ndak,ah. Mosok kayak gitu. Semua harus fokus pada tugasnya masing-masing,kok…kayaknya.”
“Makanya, gaji Kaur minta dinaikkan ya.” kata Kang Sronto sini. Kemudian melanjutkan. “Saya ini kok heran, para Kaur Desa itu sudah gajinya tinggi, dapat Andong dinas mewah. Lha kok baru seminggu dilantik, sudah minta kenaikan gaji. Piye, to?!”
“Ehm,ehm.. begini Kang Sronto. Kenaikan gaji ini sudah struktural. Jadi jangan dilihat kenaikan gajinya, tapi secara struktural.”
“Asshh…Ndak usah pake bahasa susah kayak gitu. Itu cuman buat mbohongi rakyat aja. Pake bahasa sulit,biar rakyat ndak mudeng. Gampangnya,gimana?!” tukas Kang Sronto.
“Gini contohnya. Gaji Kaur kan dah lama ndak dinaikkan. Padahal gaji Cengkir aja, tiap tahun dinaikkan.” ulas Juragan Brono.
“Lha ya jelas. Cengkir yang cuman nerima jadi tukang sapu desa, gajinya cuman berapa? Kok mau dibandingkan dengan gaji Kaur yang sudah nggedabel. Belum lagi tunjangan sama dana taktis masing-masing Kaur. Ya to, Ceng?”
Semua menoleh ke arah Cengkir. Tapi yang ditanya masih asik melihat ke atas.
“Cengkir! Kamu dari tadi liat atas terus. Ada apa, to?” tegur Kang Sronto kesal.
Tidak mengalihkan pandangannya, sambil jarinya menunjuk ke atas. Cengkir berbicara. “Itu lho, tulisan di atas. Blogger Tolak Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Maksudnya apa,to? Dari tadi saya pikir-pikir, kok ndak nemu apa maksudnya itu.”
Tidak memperdulikan Kang Sronto yang menepok jidat, Mas Roy, yang kuliah di Fisip tapi ahli komputer, melihat ini sebagai peluang lepas dari gugatan Kang Sronto.
Mas Roy menjawab. “Ini lho, Kir. Pasal itu kan mengatakan, siapa saja yang mencemarkan nama baik seseorang di internet bisa kena pidana. Nah masalahnya, gimana sih kriteria nama baik seseorang itu? Soalnya, orang-orang yang sensitif sama nama baik itu malah biasanya orang yang sedang bermasalah dengan nama baiknya karena kesangkut kasus korupsi dan tindak pidana lainnya.”
“Apa orang yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang dia terima, bisa disebut sebagai pencemaran nama baik? Ini termasuk pasal mulur-mungkret yang bisa diterjemahkan sesuai keinginan pemodal. Timor Leste aja yang kitan KUHP-nya nyontek Indonesia, sudah menghapuskan segala pasal pencemaran nama baik. Makanya saya juga mendukung penghapusan pasal 27 ayat 3 UU ITE. Undang-undang ITE mutlak tetep diperlukan, tapi 1 ayat itu perlu dibusek.” Mas Roy mengakhiri penjelasan panjangnya sambil berterima kasih atas narasi dan logonya kepada kang Blontankpoer.
Cengkir manggut-manggut sambil akhirnya ikut duduk bersama tamu-tamunya.
“Saya juga mendukung itu, lho Ceng!” kata Lik Power bersemangat.
“Pokoknya, saya juga mendukung itu!” Juragan Brono tidak mau kalah.
Semua bersemangat. Benar-benar mencitrakan Pejuang Pembela hak Rakyat Sejati.
Wajah Cengkir menjadi cerah sumringah. Cengkir berkata. “Wah,wah…brati, nanti kalo ada tulisan-tulisan yang isinya mengeluhkan kinerja pemerintahan desa Carangpedopo ini, brati ndak bakal dituntut, kan ya? Ya?”
“Ngg…nganu…itu..eh…” kata Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy tergagap berjamaah menjawab pertanyaan Cengkir.
Obrolan Sore pun berakhir.



obrolan yang sangat menarik dan bermanfaat tapi sayang bisa tak didengar oleh pejabat2nya
rudis
November 1, 2009
salam super,,,
gak apa apa gak di dengar pejabat,, tapi di dengar TUHAN khan ? he he he,,,
andry sianipar
November 2, 2009
Wlw blm tau bner gimana detilnya UU ITE ini, tp saia ikut stuju!
cici silent
November 1, 2009
UU-nya memang perlu, yang ndak perlu itu pasal pencemaran nama baik-nya
Pradna Satunya
November 2, 2009
beruntung pak lurah cuma mengisyaratkan wakil kaur cuma enam, khusus untuk kaur-kaur yang super sibuk… coba kalau semua kaur dikasih wakil, opo ora ngentekke bandha desa???
lha wong lurahe arep ngundakke bengkok wae akeh sing protes kok! potongane kaur kae opo gelem dikei bengkok sithik… huasyu!
Andy MSE
November 1, 2009
juragan brono kuwi po sing rambute mabluk putih???
Andy MSE
November 1, 2009
Juragan Brono ki bisa saja…yang penting sugih
Pradna Satunya
November 2, 2009
oooh ada uu it tho
lha diriku ini gaptek plus gagap berita je
sik takwocone sik kang
ntar koment lagi hehehehe
soewoeng
November 1, 2009
agak bingung neh masalah politik,,salamkenal om blogger baru hehehe
ivan
November 1, 2009
blog baru, ning blogger lawas
Pradna Satunya
November 2, 2009
keduwuren…
ra nyandak…
sepurone yooo…
Love4Live
November 2, 2009
nak keduwuren, mocone karo ndodhok Kang
Pradna
November 2, 2009
ra usah ditolak…
nek sampek ono kasus kan garek digeruduk rame2 lak wis bar…
itempoeti
November 2, 2009
bar, nak ngene carane
Pradna Satunya
November 2, 2009
Aku belum jelas isi UUnya itu mas, jadi no komenglah
WANDI thok
November 2, 2009
saya juga mudengnya di pasal itu aja, Pak Dhe
Pradna Cahbagus
November 3, 2009
Mumet ya mikir negara?
Salam kenal Mas…..
masnur
November 2, 2009
nggak mumet juga sih,
malahan bisa jadi bahan obrolan sore
Pradna Cahbagus
November 3, 2009
Masalah desa yang mirip masalah negara kita ya, begitulah gaji kaur pingin naik para menteri juga sama, Indonesia…
mamah aline
November 2, 2009
heheheee…cara berceritanya nyuenengkehhh…
salam kenal
ikiakukok
November 2, 2009
salam kenal juga, @kuwiduduakukok
Pradna Cahbagus
November 3, 2009
wah rak reti kau masalah iki bingung padahal wes gocekan cagak lho…kok isih bingung yo
megaloman87
November 2, 2009
Ikutan Ngobrol, tapi cuma ndengerin aja ya..
indra1082
November 2, 2009
sambil medang, joss tenan
Pradna Cahbagus
November 4, 2009
ngertini mung aa-UU tok lah ndak malah ra mudeng, ning dadi juragan rak enak to
rony
November 2, 2009
cengkir cengkir !
riFFrizz
November 2, 2009
inggih, mas?
Pradna Cahbagus
November 3, 2009
saia ketinggalan obrolan tersebut, dikarenakan masih menghisap rokok di pematang sawah
gajah_pesing
November 2, 2009
padahal gayeng tenan, lho Kang
Pradna Cahbagus
November 4, 2009
poko’na jangan sampe dipenjara gegara curhas di blog deh… *amitamit*
idup cengkir!
iLLa
November 2, 2009
sepakat
Pradna Cahbagus
November 4, 2009
Mestinya ayat2 itu memang perlu penjelasan yang lebih tegas, bukan malah ngaret
lovepassword
November 2, 2009
hehehe… asik banget obrolan sorenya… emang enak ngobrol santai sambil nyerput teh atow kopi….
btw: itu mas roy (suryo…??) hehehehe
gadgetboi
November 3, 2009
ayoooo tolak….
dias
November 3, 2009
Wah obrolan sore yang seru dan bermanfaat juga tuh hehe..
dan sangat mantap, ada jadah gorengnya juga. pas sore-sore..
Cara Membuat Blog
Cara Membuat Blog
November 3, 2009
mantap. obrolan yg asik
Salam kenal
Si Kurus
November 3, 2009
salam kenal juga, mas
makasih dah mampir sambil ngobrol sore
Pradna Jogloabang
November 6, 2009
wah, ini ada kaitannya dg kasus prita mulyasari ya?
fanny
November 3, 2009
kaitannya gn itu juga dan berkaitan dengan masa depan blogosphere
Pradna Jogloabang
November 6, 2009
no comment aja deh takut salah
btw, salam kenal ya
ian
November 3, 2009
wakkakak ..
sentilan halus yang sangat mengena ..
awalnya kirain cuman cerita ternyata eh ternyata ..
Cara Membuat Website
Cara Membuat Blog
November 3, 2009
Jadi cuma dijawab dengan “Nganu” itupun dengan gagap ya? Haks…
andri
November 3, 2009
hehe…demikianlah
Pradna Jogloabang
November 6, 2009
setuju pasal itu dihapuskan. akan menjasi sebuah preseden di dunia blogging kalau pasal2 yang rawan penafsiran dg berbagai macam stigma itu dibiarkan. langkah penduduk Carangpedopo layak diikuti.
sawali tuhusetya
November 4, 2009
Sepakat, Pak Guru
Pradna Jogloabang
November 6, 2009
saia jelas mendukung juga penghapusan pasal itu
gw belon pernah bilang yak, kalo cerita tentang Carangpedopo ini salah satu yang gw kagumi di ranah daring Indonesia (worship)
dhodie
November 4, 2009
(blush) nih, digemari oleh Petinggi de’blogger
Pradna Jogloabang
November 6, 2009
duh kang UU didunia mah gampang dibulak balik..
andif
November 5, 2009
salampagii pradna
setuju hapus pasal 27, coz udah kebanyakan pasal
smuanya juga masih gak teratur masih beljar mengerti^^
salamkenaldaribri
__selamatpagii future__
bri
November 5, 2009
good luck
ananda yoga
November 5, 2009
bener tuh, yang mudah tersungging eeh tersinggung itu biasanya malahan memang bermasalah
ami
November 5, 2009
kalo namanya nggak baik,boleh ya dicemarken.. salam kenal mas
mr psycho
November 6, 2009
nganu mas, UU ITE kuwi apa ya mas??
ciwir
November 6, 2009
lha mbuh
Pradna
November 6, 2009
sampean jelasno pisan mas isine undang undange mas aku rung dong detail nya kie mas
genthokelir
November 6, 2009
Untuk penjelasan dan narasi, silahkan di klik link ke kang Blontank diatas, Mas.
Kalo dijelaskan thirik-thirik di Obrolan Sore, jadi ndak lucu lagi nanti
Yang jelas UU ITE tetap dibutuhkan, tp pasal pencemaran nama baik itu saja yang direvisi. Soalnya seperti kata @Mr. Psycho : kl namanya gak baik, boleh dicemarkan, brati
Pradna
November 6, 2009
saya juga mendukung
luxsman
November 6, 2009
[...] itu blog?” potong mas Roy. “Tukang Cerita nya itu mualesnya setengah mati, kok. Mosok ada yang minta dijelasin UU ITE pasal 27 ayat 3 malah suruh ke blognya Kang Blontank, [...]
Obrolan Sore 11 : Tamu dari Rumah Kayu « Pradna's Corner
November 12, 2009
kesuwen…
obong wae sisan DPR…
lak bar urusane…
itempoeti
November 16, 2009
saya mendukung pembubaran DPRRI…
Dewan Penipuan Rakyat RI
Love4Live
November 16, 2009