Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat

Posted on November 1, 2009. Filed under: Obrolan Sore | Tags: , , , , , , , |

tolak_uu_ite

 

Sore hari.

Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.

Saat dibuai amarah itulah, Cengkir sang tuan rumah keluar sambil membawa nampan berisi teh tawar hangat dan jadah goreng sebagai penyemarak obrolan sore kali ini. Kang Sronto yang berdiri membelakangi Cengkir, hanya melirik sekilas pemuda kurus nan bersahaja itu meletakkan bawaannya di meja jati yang berusia beberapa generasi menjadi saksi gayengnya obrolan dan gojek kéré di teras rumah ini.

Anehnya, begitu Cengkir menaruh apa yang dibawanya, langsung terdiam melihat ke atas. Kang Sronto tidak memperdulikan kelakuan Cengkir. Matanya kembali nyalang menanti sesuatu muncul dari jalan didepannya itu.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Rombongan kecil tamu undangan, berisikan Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy, datang memasuki teras rumah joglo itu. Kaku, Kang Sronto menyilahkan duduk para tamu yang memang sengaja diundang Kang Sronto di obrolan sore ini.

Mereka pun duduk di kursi kayu beranyaman plastik yang mengelilingi meja jati bundar yang sudah berisi minuman dan kudapan. Sedangkan Cengkir masih terdiam terpaku melihat ke atas.

Setelah melonggarkan tenggorokan dengan hidangan yang ada, dan satu lintingan rokok racikan sendiri yang bahan-bahannya selalu ada di atas meja. Kang Sronto menegakkan badan, seolah seperti betara Krisna yang hendak menggugat Kurawa.

“Saya mau bertanya.” Kang Sronto membuka percakapan dengan resmi.

Lik Power sebagai ketua rombongan yang menjawab. Tak kalah resmi.  “Silahkan.”

“Baru kali ini Kaur pake wakil Kaur. Apa ndak cukup sekretaris Kaur buat mbantu tugas harian Kaur?” Kang Sronto memulai gugatannya.

Lik Power melirik Juragan Brono yang baru sebentar menikmati kursi Lembaga Musyawarah Desa, sudah ditarik menjadi Kaur Perekonomian.

Juragan Brono membasahi tenggorokan dengan teh tawar sebelum menjawab. “Tugas Kaur itu semakin hari semakin berat. Jadi perlu ada wakil yang mbantu disamping sekretaris Kaur.”

“Tapi nanti jadi tumpang-tindih sama tugas sekretaris Kaur?”

“Ya ndak,lah. Kan, nanti dibikin peraturan yang jelas soal wilayah kerjanya.”

“Jangan-jangan ini karena para Kaur itu bukan dari bidangnya, jadi perlu orang-orang yang bener-bener ahli?”

“Ehm…o,ndak Kang. Semua pas di bidangnya,kok. Buktinya,saya yang pengusaha ini dimasukkan ke bidang perekonomian.”

“Hmm…brati, biar orang kayak Juragan Brono ini tetep bisa menjalankan bisnisnya dengan tenang?”

“Eh,nganu…” Juragan Brono mulai grogi. “Ndak,ah. Mosok kayak gitu. Semua harus fokus pada tugasnya masing-masing,kok…kayaknya.”

“Makanya, gaji Kaur minta dinaikkan ya.” kata Kang Sronto sini. Kemudian melanjutkan. “Saya ini kok heran, para Kaur Desa itu sudah gajinya tinggi, dapat Andong dinas mewah. Lha kok baru seminggu dilantik, sudah minta kenaikan gaji. Piye, to?!”

“Ehm,ehm.. begini Kang Sronto. Kenaikan gaji ini sudah struktural. Jadi jangan dilihat kenaikan gajinya, tapi secara struktural.”

“Asshh…Ndak usah pake bahasa susah kayak gitu. Itu cuman buat mbohongi rakyat aja. Pake bahasa sulit,biar rakyat ndak mudeng. Gampangnya,gimana?!” tukas Kang Sronto.

“Gini contohnya. Gaji Kaur kan dah lama ndak dinaikkan. Padahal gaji Cengkir aja, tiap tahun dinaikkan.” ulas Juragan Brono.

“Lha ya jelas. Cengkir yang cuman nerima jadi tukang sapu desa, gajinya cuman berapa? Kok mau dibandingkan dengan gaji Kaur yang sudah nggedabel. Belum lagi tunjangan sama dana taktis masing-masing Kaur. Ya to, Ceng?”

Semua menoleh ke arah Cengkir. Tapi yang ditanya masih asik melihat ke atas.

“Cengkir! Kamu dari tadi liat atas terus. Ada apa, to?” tegur Kang Sronto kesal.

Tidak mengalihkan pandangannya, sambil jarinya menunjuk ke atas. Cengkir berbicara. “Itu lho, tulisan di atas. Blogger  Tolak Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Maksudnya apa,to? Dari tadi saya pikir-pikir, kok ndak nemu apa maksudnya itu.”

Tidak memperdulikan Kang Sronto yang menepok jidat, Mas Roy, yang kuliah di Fisip tapi ahli komputer, melihat ini sebagai peluang lepas dari gugatan Kang Sronto.

Mas Roy menjawab. “Ini lho, Kir. Pasal itu kan mengatakan, siapa saja yang mencemarkan nama baik seseorang di internet bisa kena pidana. Nah masalahnya, gimana sih kriteria nama baik seseorang itu? Soalnya, orang-orang yang sensitif sama nama baik itu malah biasanya orang yang sedang bermasalah dengan nama baiknya karena kesangkut kasus korupsi dan tindak pidana lainnya.”

“Apa orang yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang dia terima, bisa disebut sebagai pencemaran nama baik? Ini termasuk pasal mulur-mungkret yang bisa diterjemahkan sesuai keinginan pemodal. Timor Leste aja yang kitan KUHP-nya nyontek Indonesia, sudah menghapuskan segala pasal pencemaran nama baik. Makanya saya juga mendukung penghapusan pasal 27 ayat 3 UU ITE. Undang-undang ITE mutlak tetep diperlukan, tapi 1 ayat itu perlu dibusek.” Mas Roy mengakhiri penjelasan panjangnya sambil berterima kasih atas narasi dan logonya kepada kang Blontankpoer.

Cengkir manggut-manggut sambil akhirnya ikut duduk bersama tamu-tamunya.

“Saya juga mendukung itu, lho Ceng!” kata Lik Power bersemangat.

“Pokoknya, saya juga mendukung itu!”  Juragan Brono tidak mau kalah.

Semua bersemangat. Benar-benar mencitrakan Pejuang Pembela hak Rakyat Sejati.

Wajah Cengkir menjadi cerah sumringah. Cengkir berkata. “Wah,wah…brati, nanti kalo ada tulisan-tulisan yang isinya mengeluhkan kinerja pemerintahan desa Carangpedopo ini, brati ndak bakal dituntut, kan ya? Ya?”

“Ngg…nganu…itu..eh…” kata Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy tergagap berjamaah menjawab pertanyaan Cengkir.

Obrolan Sore pun berakhir.

*Seluruh masyarakat desa Carangpedopo mendukung penghapusan Pasal 27 ayat 3 UU ITE…yah, setidaknya, Cengkir mendukung.*

Make a Comment

Make a Comment: ( 60 so far )

blockquote and a tags work here.

60 Responses to “Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat”

RSS Feed for Pradna's Corner Comments RSS Feed

obrolan yang sangat menarik dan bermanfaat tapi sayang bisa tak didengar oleh pejabat2nya

salam super,,,
gak apa apa gak di dengar pejabat,, tapi di dengar TUHAN khan ? he he he,,,

Wlw blm tau bner gimana detilnya UU ITE ini, tp saia ikut stuju! :D

UU-nya memang perlu, yang ndak perlu itu pasal pencemaran nama baik-nya ;)

beruntung pak lurah cuma mengisyaratkan wakil kaur cuma enam, khusus untuk kaur-kaur yang super sibuk… coba kalau semua kaur dikasih wakil, opo ora ngentekke bandha desa???
lha wong lurahe arep ngundakke bengkok wae akeh sing protes kok! potongane kaur kae opo gelem dikei bengkok sithik… huasyu!

juragan brono kuwi po sing rambute mabluk putih???

Juragan Brono ki bisa saja…yang penting sugih

oooh ada uu it tho
lha diriku ini gaptek plus gagap berita je
sik takwocone sik kang
ntar koment lagi hehehehe

agak bingung neh masalah politik,,salamkenal om blogger baru hehehe

blog baru, ning blogger lawas

keduwuren…
ra nyandak…
sepurone yooo…

nak keduwuren, mocone karo ndodhok Kang :D

ra usah ditolak…
nek sampek ono kasus kan garek digeruduk rame2 lak wis bar…

bar, nak ngene carane

Aku belum jelas isi UUnya itu mas, jadi no komenglah :lol:

saya juga mudengnya di pasal itu aja, Pak Dhe :D

Mumet ya mikir negara?

Salam kenal Mas…..

nggak mumet juga sih,
malahan bisa jadi bahan obrolan sore :D

Masalah desa yang mirip masalah negara kita ya, begitulah gaji kaur pingin naik para menteri juga sama, Indonesia…

heheheee…cara berceritanya nyuenengkehhh…
salam kenal

salam kenal juga, @kuwiduduakukok

wah rak reti kau masalah iki bingung padahal wes gocekan cagak lho…kok isih bingung yo

Ikutan Ngobrol, tapi cuma ndengerin aja ya.. :mrgreen:

sambil medang, joss tenan

ngertini mung aa-UU tok lah ndak malah ra mudeng, ning dadi juragan rak enak to

saia ketinggalan obrolan tersebut, dikarenakan masih menghisap rokok di pematang sawah

padahal gayeng tenan, lho Kang

poko’na jangan sampe dipenjara gegara curhas di blog deh… *amitamit* :D

idup cengkir!

Mestinya ayat2 itu memang perlu penjelasan yang lebih tegas, bukan malah ngaret

hehehe… asik banget obrolan sorenya… emang enak ngobrol santai sambil nyerput teh atow kopi….

btw: itu mas roy (suryo…??) hehehehe

ayoooo tolak….

Wah obrolan sore yang seru dan bermanfaat juga tuh hehe..
dan sangat mantap, ada jadah gorengnya juga. pas sore-sore..
Cara Membuat Blog

mantap. obrolan yg asik
Salam kenal

salam kenal juga, mas
makasih dah mampir sambil ngobrol sore

wah, ini ada kaitannya dg kasus prita mulyasari ya?

kaitannya gn itu juga dan berkaitan dengan masa depan blogosphere :D

no comment aja deh takut salah :)

btw, salam kenal ya :P

wakkakak ..
sentilan halus yang sangat mengena ..
awalnya kirain cuman cerita ternyata eh ternyata ..

Cara Membuat Website

Jadi cuma dijawab dengan “Nganu” itupun dengan gagap ya? Haks…

setuju pasal itu dihapuskan. akan menjasi sebuah preseden di dunia blogging kalau pasal2 yang rawan penafsiran dg berbagai macam stigma itu dibiarkan. langkah penduduk Carangpedopo layak diikuti.

saia jelas mendukung juga penghapusan pasal itu :mrgreen:

gw belon pernah bilang yak, kalo cerita tentang Carangpedopo ini salah satu yang gw kagumi di ranah daring Indonesia (worship)

(blush) nih, digemari oleh Petinggi de’blogger

duh kang UU didunia mah gampang dibulak balik..
:)

salampagii pradna
setuju hapus pasal 27, coz udah kebanyakan pasal
smuanya juga masih gak teratur masih beljar mengerti^^
salamkenaldaribri
__selamatpagii future__

bener tuh, yang mudah tersungging eeh tersinggung itu biasanya malahan memang bermasalah

kalo namanya nggak baik,boleh ya dicemarken.. salam kenal mas

nganu mas, UU ITE kuwi apa ya mas??

sampean jelasno pisan mas isine undang undange mas aku rung dong detail nya kie mas

Untuk penjelasan dan narasi, silahkan di klik link ke kang Blontank diatas, Mas.
Kalo dijelaskan thirik-thirik di Obrolan Sore, jadi ndak lucu lagi nanti :D

Yang jelas UU ITE tetap dibutuhkan, tp pasal pencemaran nama baik itu saja yang direvisi. Soalnya seperti kata @Mr. Psycho : kl namanya gak baik, boleh dicemarkan, brati :D

saya juga mendukung

[...] itu blog?” potong mas Roy. “Tukang Cerita nya itu mualesnya setengah mati, kok. Mosok ada yang minta dijelasin UU ITE pasal 27 ayat 3 malah suruh ke blognya Kang Blontank, [...]

kesuwen…
obong wae sisan DPR…
lak bar urusane…

saya mendukung pembubaran DPRRI…
Dewan Penipuan Rakyat RI


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...